Skip to main content

Cerpen: Bermain Adil (Sepakbola)

Cerpen: Bermain Adil (Sepakbola)

Di suatu desa hampir setiap tahun pada tanggal 17 Agustus diselenggarakan lomba pertandingan sepakbola tingkat desa untuk memperebutkan piala bergilir.

Selama beberapa kali pertandingan, Tim Onel selalu berhasil memenangkan piala bergilir dan itu membuat Onal kesal dengan Onel.

Pendukung dari Tim Onal menuduh Onel sebagai anak kesayangan dari penyelanggara, semacam tuduhan bahwa ada campur tangan orang dalam karena Onel keponakan dari Pak Kades.

Dari segi skill, Onal dan Onel memiliki skill yang hampir sama baiknya, tapi mengapa Onal tak pernah sekalipun memenangkan piala bergilir? Tentu saja dalam permainan sepakbola kesuksesan berasal dari tim yang solid bukan hanya berdasar individu perorangan, serta didasari hal lainnya.

Namun pendukung Tim Onal bersikeras kemenangan Onel bukan karena skill melainkan campur tangan orang dalam, semacam memanfaatkan wasit untuk mencurangi salah satu tim.

Oleh karena itu pendukung Tim Onal berinisiatif untuk melibatkan mistis dalam pertandingan berikutnya. Mereka akan menyantet Onel agar kalah.

***

Pertandingan berikutnya untuk memperebutkan piala bergilir akan segera dimulai dalam beberapa hari mendatang dan Tim Onal harus segera menyantet Onel agar tidak bisa ikut lomba.

Selaku pelatih, Satria mewakili Tim Onal bertugas mencari dukun santet untuk menyantet Onel dan Satria menyuruh dukun santet bernama Mbah Otang untuk melakukan misi itu.

Mbah Otang kemudian menyantet Onel dengan cara menuliskan nama Onel di kertas dan memasukkan kertas tersebut ke dalam toples yang tertutup rapat dan menyuruh Satria membuang toples tersebut ke laut.

Selama tidak ada yang menemukan toples tersebut maka santet tidak bisa disembuhkan dan sebaliknya jika ada orang yang menemukannya dan membuka toples tersebut serta membuang isinya maka korban akan sembuh seketika.

***

Setelah toples di buang ke laut, Onel mendadak jadi sakit-sakitan, pucat, tidak nafsu makan.

Selaku pelatih Tim Onel, Agus jadi bingung, pemain andalan satu-satunya mendadak sakit tidak bisa ikut lomba.

Meskipun banyak pemain cadangan tapi Onel adalah semangat bagi tim, jika dia tidak bisa ikut main, tim juga jadi ikut lesu.

Selaku pelatih, Agus semakin bingung, banyak hal yang harus dirubah jika Onel tidak bisa ikut, merubah strategi, susunan pemain dan sebagainya.

Tapi masih ada sedikit waktu sebelum pertandingan di mulai, Agus membawa Onel ke Dokter tapi Dokter tidak menemukan penyakit pada diri Onel.

"Kalau tidak punya penyakit tapi mengapa dia sakit?" Agus merenung, bingung memikirkan itu.

"Berarti penyakit klenik ya? Hmm tak ada salahnya mencoba pengobatan klenik." Agus membatin.

***

Agus kemudian mencari dukun yang dapat menangani masalah ini, setau Agus di desa tersebut hanya ada dua orang dukun sakti, Mbah Otang dan Mbah Obeng, dua-duanya merupakan mekanik dan masing-masing memiliki bengkel.

Mbah Otang julukan dari nama Tang.

Mbah Obeng julukan dari nama Obeng.

Mereka berdua saudara seperguruan yang memiliki ilmu setara, ilmu yang dapat digunakan untuk menyantet dan sekaligus mengobati santet.

Dulunya mereka berdua orang jahannam yang saling bekerja sama, yang satunya sengaja menyakiti orang dan yang satunya lagi tukang obati.

Namun karena pembagian uang yang tidak adil akhirnya mereka bermusuhan dan saling bongkar rahasia. Yang ternyata mereka tidak benar-benar sakti. Mereka hanya penipu, ketika ada orang sakit apapun, mereka akan mengatakan itu kena santet, lalu mereka akan mengobatinya.

Seiring berjalannya waktu karena pengobatan mereka tidak mempan, akhirnya job mereka jadi sepi, orang tidak percaya lagi pada pengobatan mereka, dan karena itu mereka membangun bengkel sebagai pekerjaan baru mereka.

Meskipun tidak benar-benar sakti tapi sebagian masyarakat masih percaya bahwa mereka memang memiliki kesaktian walau sedikit, seperti kebal dan lainnya.

Mbah Otang orangnya agak pemarah sedangkan Mbah Obeng agak pendiam. Jadi Agus memilih yang pendiam saja sebagai tempat konsultasi.

Agus kemudian menemui Mbah Obeng di bengkelnya untuk konsultasi.

Setelah memejamkan mata, Mbah Obeng kemudian menjawab pertanyaan Agus.

"Agak berat nih, penglihatan saya tidak mampu menembus lokasi, gelap, jauh banget, seperti di kedalaman air." Terang Mbah Obeng.

"Tentu saja gelap, situ memejamkan mata sih." Ucap Agus dalam hati.

"Jadi gimana Mbah?" Tanya Agus kemudian.

"Mbah?" Tanya Agus lagi tapi Mbah Obeng sudah tidak mau menjawab dan sibuk sendiri mencueki Agus. Agus lupa kalau Mbah Obeng seorang pendiam yang berbicara hanya sesekali saja.

"Oke terimakasih mbah." Jawab Agus seraya membayar 50 ribu lalu pergi meninggalkan tempat itu penuh kebingungan dan kemudian Agus menuju ke bengkel Mbah Otang saja.

Sesampainya di bengkel Mbah Otang, jantung Agus berdegup kencang karena Mbah Otang pemarah, Agus takut dimarahin Mbah Otang.

Benar saja, begitu Agus muncul langsung dipelototin sama Mbah Otang.

"Apa yang rusak?" Tanya Mbah Otang melihat kearah motor Agus.

"Sebenarnya gada yang rusak sih mbah, saya kesini cuma mau tanya-tanya aja?" Ucap Agus sedikit gemetar.

"Eeeh, gada tanya-tanya, sana-sana, pergi, pergi, saya gamau ditanya!" Agus diusir oleh Mbah Otang.

Peraturannya adalah jika ingin menyantet atau memelet orang, langsung saja sebutkan nama dan terangkan ciri orang yang ingin di santet atau dipelet lalu bayar 50 ribu. Sebaliknya jika ingin minta diobati juga begitu.

Agus lupa dengan peraturan itu, dulunya Mbah Obeng dan Mbah Otang punya asisten yang akan menerangkan peraturan itu ke tamu, tapi sekarang mereka tidak punya asisten lagi karena tidak mampu menggaji mereka.

Khusus Mbah Otang hanya boleh mengutarakan niat satu kali saja kalau lebih bakal dia marahi.

Khusus Mbah Obeng hanya boleh mengutarakan niat satu kali saja kalau lebih bakal dia diamkan alias dia cueki.

Hanya saja kalau ngobrolin seputar bengkel, atau tentang kerusakan kendaraan, mereka berdua tetap melayaninya meski terjadi tanya jawab berkali-kali.

Dan untuk perbedaan Agus dan Satria, Agus jarang ke dukun, kalau Satria sudah sering bertemu kedua dukun itu jadi hapal peraturan mereka.

***

Agus bingung, Onel belum juga sembuh sementara pertandingan 17 Agustus memperebutkan piala bergilir sudah dimulai, terpaksa untuk pertandingan kali ini Onel hanya ditempatkan dibangku cadangan saja dan Agus harus ikhlas melihat timnya kehilangan semangat karena Onel tidak ikut bermain.

Tidak hanya karena ketidakhadiran Onel tapi juga kehilangan semangat karena wasitnya diganti dengan yang baru.

Sebelumnya Agus memang curang menyogok wasit dan setelah muncul desas-desus protes dari pihak Satria bahwa Agus curang akhirnya wasit diganti dengan yang baru bernama, Mr. Tanza.

Hari pertama pertandingan persaingannya cukup sengit, Tim Agus tertinggal 0-1 dan Tim Satria unggul 1-0.

Agus semakin pusing, kekalahan di ambang mata, kalau sampai final nanti Onel belum juga sembuh maka besar kemungkinan piala bergilir akan jatuh ke tangan Tim Satria.

"Pokoknya Onel harus sembuh." Ucap Agus.

Agus percaya bahwa Onel terkena santet dan dia harus mencari info kesana kesini untuk mencari dukun paling sakti agar Onel dapat segera disembuhkan.

Namun Agus tak menemukan dukun yang lebih baik daripada Mbah Obeng dan Mbah Otang.

Putus asa, akhirnya Agus bertanya lagi ke Mbah Obeng untuk menunjukkan apa obat dari santet? Awalnya Mbah Obeng tetap diam tidak menjawab, hingga Agus putus asa dan spontan bilang:

"Saya tambahi deh 50 ribu lagi."

"Hmm.." Dahem Mbah Obeng. Sebenarnya Mbah Obeng hanya berdahem tapi Agus mengartikan dahem itu sebagai "iya".

"Saya tambahi deh 50 ribu lagi."

"Hmm.." Mbah Obeng berdahem. 

"Saya tambahi 1 juta." Ucap Agus lagi.

Berhasil, Mbah Obeng menjawabnya "Baiklah, apa maumu?"

"Katakan apa yang harus saya lakukan untuk mengobati Onel?"

"Hmm.." Mbah Obeng berdahem. 

"Saya tambahi 1 juta lagi jadi 2 juta." Ucap Agus lagi.

"Saya tidak tau, semacam ada energi kuat dari dalam air yang menyakiti Onel." Jawab Mbah Obeng. 

"Jelaskan sejelas-jelasnya?" Ucap Agus.

"Hmm.." Mbah Obeng berdahem. 

"Saya tambahi lagi jadi total 5 juta tapi jelaskan sejelas-jelasnya." Ucap Agus lagi mulai mengerti kemauan Mbah Obeng yaitu duit.

"Saya tidak tau pasti lokasinya dimana, namun yang pasti ada benda atau wadah semacam kaca di dalam air, entah air laut, air sungai ataukah air sumur, saya tidak tau, cari benda itu, temukan benda itu, pecahkan dan keluarkan isinya, selesai." Jelas Mbah Obeng.

Setelah pamit dan berterimakasih, Agus pergi dari bengkel Mbah Obeng sementara Mbah Obeng mengirim chat ke Mbah Otang.

"Kamu beneran Tang, gatau dimana lokasi tepatnya toples itu dibuang? Kasian lho orang ini sampai rela-rela membayar 5 juta." Tanya Mbah Obeng ke Mbah Otang.

"Gatau saya.. karena yang saya suruh membuang itu Satria. Cuma Satria yang tau lokasi pembuangannya." Balas Mbah Otang membalas chat Mbah Obeng.

"Oke deh kalau Agus datang lagi dan bertanya lagi kita suruh saja dia bertanya ke Satria." Balas Mbah Obeng membalas chat Mbah Otang.

"Yang aku heran kenapa santet itu berfungsi ya, padahal aku cuma iseng aja loh masukin nama ke toples buat menipu Satria." Balas Mbah Otang membalas chat Mbah Obeng, mengungkapkan keheranannya.

"Ya kita juga gatau, entah suatu kebetulan Onel sakit ataukah santet itu memang berfungsi, ih serem juga ya saya begidik jadinya." Balas Mbah Otang membalas chat Mbah Obeng.

"Ya pokoknya yang 5 juta tadi bagi dua ya, okey?"

"Sip nanti kita kita bagi dua." Balas Mbah Otang membalas chat Mbah Obeng.

***

Sementara Agus menyuruh penyelam untuk membantunya mencari toples kaca di dalam air.

Agus menggunakan jasa dua orang penyelam berbayar, Herman dan Khanif yang kemudian menyelam memeriksa semua sumur dan sungai bahkan danau, namun mustahil bagi mereka memeriksa semua tempat, meskipun wilayah desa mereka tidak terlalu luas tapi akan membutuhkan waktu sangat lama.

Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan Agus untuk membayar Herman dan Khanif, sementara hadiah jika menang dari pertandingan sepakbola hanya 10 jutaan saja, tekor sudah pasti tapi ini bukan lagi semata-mata agar Tim Agus menang tapi ini lebih kepada agar Onel sembuh.

Agus pusing berat memikirkan itu dan terpaksa menghentikan pencarian toples kaca di dalam air karena duitnya sudah habis untuk membayar Herman dan Khanif.

Pertandingan juga sudah masuk semi-final, skor menunjukkan Tim Agus 10-13 dan Tim Satria unggul 13-10.

Tinggal menunggu final saja lagi.

Tim Agus sudah diambang kekalahan dan tak ada lagi yang dapat dilakukan selain harus puas dengan skor itu.

Akankah dewi fortuner berpihak ke Agus?

***

Sementara itu di tempat lain, sepasang kekasih penyelam, Jaey dan Amanda, menyelam menggunakan teknologi tinggi berupa alat detektor canggih untuk menyelam di berbagai tempat wisata.

Mereka berdua menyelam untuk bersenang-senang sekaligus membersihkan sampah plastik di dasar sungai, maupun danau, di tempat wisata.

Setiap menyelam tak jarang mereka menemukan iPhone, kamera canggih mahalan, kaca mata bermerek, jam tangan bermerek, alat pancing dan benda-benda lainnya yang kemungkinan milik Turis yang terjatuh ke dalam air, sebagaian benda itu masih berfungsi dengan baik, bahkan ada ponsel yang masih menyala dalam air yang mereka temukan.

Setelah menemukan banyak benda mereka naik ke daratan untuk memisahkan sampah dan temuan barang berharga.

Namun mereka bingung ketika melihat toples berisi kertas.

"Apa ini?" Ucap Jaey merasa heran memperhatikan dan membolak-balik toples itu.

"Semacam toples buat tempat ngocok arisan?" Ucap Manda juga memperhatikan dan membolak-balik toples itu.

"Tempat ngocok arisan?" Tanya Jaey pada Manda.

"Iya tapi anehnya mengapa tidak ada lubang di tutup toplesnya?" Jawab Manda masih memperhatikan toples itu.

"Lubang buat apa?" Tanya Jaey makin tak mengerti.

"Tempat ngocok arisan biasanya ada lubang di tutup toplesnya dan saat di kocok-kocok begini, kertas dari dalam toples akan keluar dari lubang di tutup toples." Terang Amanda pada Jaey.

"Coba ulangi, ngocoknya gimana tadi?" Tanya Jaey tapi Amanda melihat ada ekspresi tidak beres dari senyuman Jaey.

"Ihh apaan sih?" Ucap Manda grogi sambil membuka toples itu dan menemukan nama di dalamnya.

"Wkwk.."

"Nah kan benar ada satu nama di dalamnya, berarti bener ini toples arisan, mungkin nama peserta arisannya sisa satu orang jadi di buang." Tebak Manda.

"Ya, mungkin begitu." Jawab Jaey.

***

Sementara itu di tempat lain, karena Jaey dan Amsnda sudah membuka toples, Onel kemudian mendadak sembuh, dan langsung menyampaikan kabar gembira itu ke Agus, pelatihnya.

Agus dan semua tim langsung tepuk tangan bahagia karena pemain bintangnya akan ikut bermain di laga final nanti malam.

Setelah makan malam yang banyak dan latihan sebentar, tampaknya Onel sudah benar-benar pulih dan siap bertanding.

Satria dan Onal terkejut melihat kehadiran Onel di lapangan, begitu juga para warga, yang pada akhirnya semuanya tempuk tangan menyambut semua pemain dan ini akan menjadi pertandingan sengit di malam final ini, di pandu oleh wasit Mr. Tanza Yamamoto.

Pertandingan Babak satu, Onel langsung mencetak satu gol, mengejar ketertinggalan dari total skor 10-13 menjadi 11-13.

Butuh 2 gol lagi bagi Onel untuk dapat menyamakan kedudukan.

Tapi tidak semudah itu, karena di Babak dua ini Satria Furgoso telah membisikkan ke para pemainnya untuk menyeledeng semua pemain. Saat Onel akan mencetak gol kedua tiba-tiba Onal menyeledengnya sangat keras hingga terjatuh kesakitan. Wasit meniup pluit dan memberi Onal kartu kuning.

Permainan berlanjut, kali ini Onal yang membawa bola menuju gawang Onel, sebelumnya Agus juga telah membisikkan pada pemainnya untuk bermain keras, saat Onal sudah dekat di kotak penalti, Onel siap-siap akan menyeleding tapi Onal sudah membacanya dan dia pura-pura jatuh. Wasit meniup pluit dan memberi Onel kartu kuning.

Sebagai pelatih, Agus ikut protes memarahi wasit sehingga Agus juga mendapat kartu kuning.

Satria mengakak menertawakan Agus yang mendapat kartu kuning, dan saat bersamaan Satria juga mendapat kartu kuning dari wasit.

Satria dan Agus semakin protes ke wasit dan akhirnya karena protes lagi mereka kemudian mendapat kartu merah.

Seiring itu pluit panjaang di tiup oleh Mr. Tanza tanda permainan berakhir.

Skor 11-13 dan pemenangnya adalah Tim Satria dan ini merupakan kemengan Tim Satria dan Onal pertama kali.

Tim Agus dan Onel tampaknya kelelahan dan strategi mereka kacau akibat masuknya Onel secara tiba-tiba saat final.

Semua pemain dan pelatih berpelukan seiring pembagian medali dan penyerahan piala bergilir.

TAMAT!

Comments

  1. kasian agus kalah pertandingan, gpp taun depan pasti menang 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya taun depan menang lagi, taun depan Agus merekrut Ocil sebagai pemainnya 🤣

      Delete
    2. Kalo masih ngga menang juga, tahun depan Agus merekrut Ojay, dijamin menang ini mah.😁

      Delete
    3. rekrut ronaldowati dijamin menang 😁

      Delete
    4. Ojay ga tau main bola mas, paling dia gol kan ke gawang sendiri 🤣

      Delete
    5. Nah cocok itu Ronaldowati sama si Midun 😅

      Delete
  2. Biarpun tim Agus kalah, yang penting Onel sembuh. Ini semuanya berkat JAEY dan AMANDA.😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kesembuhan lbh penting dari segala2nya wkwk..

      Delete
  3. Wkwkwk..parah ini mah, onel jadi korban keisengan si dukun kembar..wkwkwk.

    Oh ya, Dewi Fortuner apa Toyota Fortuner?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya mau nulis Fortuna, tapi2 tiba2 saya mikir siapakah si Fortuna ini? kenapa tiba2 ada di pikiran saya, serius itu spontan munculnya, lalu saya mikir Fortuna ini ada ga ya di dunia muslim? mikirnya lari2 ke muslim, haha.. sempat juga mikir.. bisa2 Allah marah ini klo ga ada di dunia muslim, akhirnya saya ganti jadi Fortuner, wkwk..

      Delete
    2. Fortuna itu merk minyak goreng kemasan.😁

      Delete
    3. Nah tuh merek minyak goreng kata Mas Agus, Mas 😅

      Delete
  4. siip...
    congratulation untuk yang menang.....
    👍👍

    ReplyDelete

Post a Comment