Skip to main content
💬

Koma Karena Cinta, YEYEYE!



Satrio Van Diesel, akhirnya dapat bernafas lega setelah selama ini ditempat tinggalnya di Belanda hanya bisa mengurung diri dalam rumah karena aturan PSBB. Keinginannya untuk berlibur ke Bali jadi tertunda, tapi kini semua sudah berakhir dan bebas pergi kemanapun.


Sesampainya di pantai Bali Satrio berdiri ditepi pantai, menikmati hembusan angin dan merasakan kakinya terkena sapuan ombak, kemeja putih dan rambutnya tertiup angin, sambil melihat pemandangan laut lepas sore itu.


Tiba2 dari arah belakangnya terasa ada yang menimpuk dengan gumpalan pasir. "Woy menghalangi pemandangan, minggir woy." Teriak orang itu padanya.


Satrio menoleh kebelakang, "busyet" ucapnya dalam hati seraya tersenyum, ternyata yang menimpuknya adalah seorang cewe cantik bernama Vina Angraeny. Mereka pun akhirnya berkenalan.


***


Seminggu di Bali dan kemudian berpacaran dengan Vina seolah seperti mendapat dobel bonus dari liburannya.


Senja itu dipantai kuta, sambil menyaksikan matahari tenggelam, Vina memundurkan wajahnya dari wajah Satrio, tapi Satrio terus mendekatkan wajahnya ke Vina, "ini bukan di Amerika mas, ini Indonesia." ucap Vina seraya makin mundur. Satrio hanya tersenyum dan menjawab "iya aku tau ini di Indonesia, yang bilang ini Amerika siapa coba?" Jawab Satrio sambil tersipu.


"Cewe indo itu seperti permen, manis dan terbungkus rapi." ucap Vina.


"Sarangheo, Vina?" Ucap Satrio (dalam bahasa korea) dengan wajah serius tanpa menghiraukan ungkapan yang dilontarkan Vina.


"Sarangheo juga" balas Vina dengan tatapan berbinar. Baginya berkenalan beberapa minggu dengan Satrio sudah cukup membuatnya yakin menyambut cinta Satrio, karena selain memiliki paras tampan Satrio juga tampaknya seorang Pria mapan.


***


Teringat akan ungkapan Vina bahwa cewe itu seperti permen, Tak sabar rasa hati Satrio, ingin cepat2 membuka bungkus permen itu dan mengulumnya.


Setelah berfikir panjang, ia yakin ingin menyunting Vina menjadi istrinya, namun sayangnya cinta mereka terhalang karena berbeda keyakinan.


Dua minggu berlalu setelah berlibur di Bali, Satrio pulang ke Belanda, membawa sedih tiada tara meninggalkan Vina pergi karena cinta mereka tak mungkin bersatu, sebab mempertahankan kepercayaan yang mereka anut masing2. Begitu juga Vina sangat sedih karena ditinggalkan Satrio pulang ke Belanda.


Tanpa sepengetahuan Vina, sesampainya di Belanda Satrio demam keras, mungkin karena perbedaan cuaca yang membuat tubuh Satrio harus beradaptasi, karena iklim di Indonesia panas dan di Belanda dingin.


Vina mencoba menelpon Satrio tapi tak pernah diangkat, karena demam yang diderita Satrio berlanjut menjadi koma dan dirawat dirumah sakit. Semua perawat bingung, semua obat dan berbagai jenis cara sudah dilakukan tapi Satrio masih belum bangun dari koma.


Sampai akhirnya salah satu dokter di Belanda teringat akan pengobatan ala muslim jaman dulu, sebuah metode pengobatan dari Ibnu Sina yang cukup populer. Ketika Dokter menyebut kata "Indonesia", detak jantung Satrio jadi semakin cepat, ketika Dokter menyebut "Bali" detak jantung Satrio semakin cepat lagi, akhirnya Dokter memutuskan untuk mencari tau apa yang terjadi dengan Satrio ketika di Bali.


Setelah mengumpulkan berbagai informasi, akhirnya Orang Tua Satrio menyampaikan ke Dokter bahwa Satrio pernah cinta mati dengan seorang cewe bernama Vina ketika berlibur di Bali. Dokterpun menyebutkan nama "Vina" kekuping Satrio, seketika itu dari alat indikator menunjukkan jantung Satrio bergerak semakin cepat.


"Semua sudah jelas, sebaiknya nikahkan saja mereka." Pinta Dokter kepada Orang Tua Satrio, seakan mendengar ucapan Dokter yang akan menikahkannya, Satrio yang sedang koma perlahan detak jantungnya semakin stabil.


***


Oleh Orang Tua Satrio, akhirnya Vina dibawa ke negara Belanda untuk menemui Satrio yang masih koma, sesampainya di Rumah Sakit di Belanda, Vina menangis dan merebahkan kepalanya di dada Satrio, tangis Vina semakin menjadi2 ketika tangan Satrio membelai rambutnya, tangis haru karena akhirnya Satrio bangun dari koma.


Setelah beberapa saat Satrio tersadar dari koma, Vina mengajukan pertanyaan, "Kau masih ingat janjimu, mas? Yang mengajakku bermain salju?" tanya Vina pada Satrio.


"Iya, aku masih ingat" jawab Satrio sambil mengecup kening Vina, namun Vina membalasnya dengan mengecup bibir Satrio dan akhirnya Satrio koma lagi hanya saja kali ini pura2 koma.


***


Setelah pulih total dari koma-nya, Satrio dan Vina kemudian bermain Salju.


"Bukk.." tiba2 ada yang melempar Satrio dengan gumpalan salju dari belakang.


"Bisa tolong minggir gak? menghalangi pemandangan tau, hehe.." ucap seseorang yang menimpuk Satrio dengan salju dari belakang, Satrio menoleh kebelakang dan ternyata Vina yang menimpuknya, Satrio langsung mengejar dan memeluk Vina hingga berguling2 di hamparan salju. Vina dalam posisi berbaring dan Satrio diposisi atas serta mendekatkan wajahnya ke Vina.


"Kali ini kamu tidak bisa mundur2in wajah lagi, Vin." Ucap Satrio dengan senyum nakalnya.


Vina tak menjawab, wajahnya memucat dan sebagian tertutup salju, sambil memeluk erat Satrio, namun perlahan pelukannya melemah dan terlepas. Satrio menggoyang2 kedua pipi Vina yang tampak membeku. 


Satrio menggendong Vina setengah berlari menuju rumah sakit, namun sayangnya baru beberapa hari saja berlalu diberlakukannya new normal kini corona mengganas lagi, sehingga diberlakukan PSBB lagi, semua Rumah sakit penuh. Vina semakin sekarat, Satrio nyaris putus asa, tenaganya juga sudah hampir habis, bingung harus membawa Vina kemana lagi agar segera dapat diobati.


Sempat terlintas dipikirannya ingin membawa Vina bercebur ke pemandian air panas seperti yang ada di film James Bond. Namun jam 2 tengah malam seperti ini, dalam kondisi PSBB seperti ini kemungkinan tempat pemandian air panas juga ditutup. Benar2 dalam kondisi yang sangat terjepit, Satrio hanya bisa melakukan pertolongan pertama seadanya, memompa dada, memberi nafas buatan.


Salju turun semakin tebal, bukan hanya Vina, tapi nyawa Satrio sendiri juga dalam bahaya. Mobilnya amblas ditengah jalan tak bisa melewati tebalnya salju, mereka tak bisa pulang kerumah atau kemana2 lagi.


Dalam sekaratnya mereka, tubuh mereka kaku membeku, hanya bibir Satrio sedikit bergerak2 seperti berdoa. Pikirannya seperti membayangkan hangatnya matahari terbit sewaktu di Bali bersama Vina, semua keindahan ketika mereka pacaran. Beginikah rasanya ketika akan mati, semua kejadian telah lalu jadi terbayang2 kembali.


Samar dari kejauhan tampak cahaya yang semakin lama semakin terang. Seperti cahaya sinar matahari terbit, bulu kuduk Satrio merinding, ini jam 2 tengah malam lewat sedikit, tapi matahari tiba2 muncul. Sejenak ia juga teringat status temannya di Facebook, "Saat keadaan benar2 terjepit, tak mampu harus berbuat apalagi, saat itulah pertolongan Tuhan datang". Perlahan Satrio merasakan tubuhnya menjadi hangat, ia menoleh kearah Vina yang tampaknya juga merasakan hal yang sama, "Syukurlah dia masih hidup.." ucap Satrio membatin. Senyumnya merontokkan sisa2 salju yang menempel diwajahnya.


Sebetulnya memang sudah pagi hanya saja tampaknya Satrio menyetting jam secara manual menggunakan zona waktu Indonesia, ia lupa mengembalikan settingan ke zona waktu Belanda. "Lain kali set ke otomatis aja Mas", celetuk Vina, hehe.


"Begitulah cinta, membuat orang jadi lupa waktu, dan waktu terasa berputar cepat ketika bersama orang terkasih.." Satrio meraih tangan Vina dan menguapinya dengan nafas agar tetap hangat.


***


Beberapa bulan kemudian setelah penerbangan Belanda-Indonesia dibuka kembali, Satrio mengantar Vina pulang ke Bali, dengan apa yang telah ia lalui selama ini, Satrio Van Diesel akhirnya merasa mantap untuk mengikuti keyakinan yang dianut Vina Angraeny dan menikahinya.


"Bulan depan kita liburan ke gunung yuk mas" ajak Vina pada Satrio.


"Ogah, digunungkan banyak batu dan ranting, entar lu timpuk gue pake batu lagi, hihi." Balasnya, sambil merangkul Vina dan menggendongnya.


Tamat!

Comments

  1. Ketika Dokter menyebut kata "Indonesia", detak jantung Satrio jadi semakin cepat. Jadi ingat kisah abu Nawas yang diminta menyembuh sakit putra mahkota kerajaan yang sakit karena jatuh cinta pada gadis desa cuma pangeran itu tak berani bilang ke ayahnya. Ketika disebut nama satu desa detak jantung pangeran itu bertambah keras.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ga salah Ibnu Sina (tabib/dokter) sahabat Nabi ketika Nabi masih hidup.

      Dan kalau ga salah juga, Abu Nawas hidup di masa Usman bin Affan, dimasa ini Nabi dan Ibnu Sina mgkn sudah ga ada.

      Jadi, Kemungkinan Abu Nawas terinspirasi dari kisah ttg Ibnu Sina, πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Kalau setau saya Abu Nawas itu hanyalah dongeng jadi ada kemungkinan cerita yang Abu Nawas itu diambil dari cerita nyata Ibnu Sina.

      Delete
    3. πŸ˜‚πŸ˜‚ dongeng ya, kirain kisah nyata 🀦‍♂️🀦‍♂️

      Delete
    4. Ada yang bilang abu Nawas itu kisah nyata, tapi entahlah

      Delete
    5. Setelah ditelusuri lewat google ternyata tokoh Abu Nawas itu memang ada dan hidup di jaman zaman Bani Abbasiyyah Khalifah Harun Al Rasyid. Dan ternyata Abu Nawas itu seorang pujangga ahli syair yang banyak menghasilkan karya sastra berbentuk puisi.

      Delete
    6. Wah suhu mmg hebat sampe nyari info ke gugel.. sungkem huu, mksh infonya huu.. πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  2. Haaahaaaa Suueeee..🀣🀣🀣

    Akhirnya keduanya ngalamin koma yaa...Kenapa nggak Titik saja.🀣🀣🀣

    Van Diesel ketemu I putu Vina pradesi...🀣🀣🀣🀣Suuueee..🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vina aslinya dari Manado kang cuma merantau di Bali πŸ˜†

      Delete
    2. Kalo di luar negeri namanya lockdown bukan psbb kang.

      Delete
    3. Tul, diluar negeri mobil pick-up disebut jg sebagai truk πŸ˜†

      Delete
    4. Mungkin salah makan πŸ˜†

      Delete
  3. Vin diesel ketemu Vina jadinya cocok ya.

    Suhu jaey makin kesini cerpennya makin bagus nih. Makin hot juga adegannya, cuma sayang kurang detil, harus banyak belajar bikin cerpen 90++ sama kang satria.🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok sama2 "V" πŸ˜†

      Ga berani aku beguru sama Kang Satria, takut dimintai tumbal πŸ˜†

      Delete
    2. Suuueeee..🀣🀣🀣

      Delete
    3. Betul juga ya, ntar ditumbalkan suruh mangkal di lampu merah.πŸ˜‚

      Delete
    4. Mungkin juga.. wkwkwk.. kaburrrrrrrrr

      Delete
    5. Nah itu yg gue takutkan, jgn sampe ky nasib Hermini yg ditumbalkannya πŸ˜†

      Delete
    6. Eallaaa bujug..πŸ™„πŸ˜¬

      Delete
    7. πŸ€£πŸ€£πŸ˜‚

      Delete
  4. weee, kirain True Story. hehehee..

    ReplyDelete
  5. Malah lebih fokus pada foto, jadi inget negeri antah berantah dengan pemerintahan yang suka janji wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah mana yang suka janji janji ya kang?

      Delete
    2. Foto hanya pemanis gan πŸ™πŸ™πŸ€£

      Delete
  6. Kirain udah awal bulan udah update, ternyata belum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin belum makan kang

      Delete
    2. Sinyal lelet terus gan, sulit buat buat posting πŸ₯ΊπŸ₯Ί

      Delete
    3. Kan bisa di draft dulu di catatan pas sinyal bagus langsung di posting.

      Delete
  7. Trrnyata di Belanda ada "PSBB" juga ya mas? πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kang, cuma bedanya psbb nya pemasukan sedikit belanjaan banyak.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Kurasa ada πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  8. Kenapa bacanya jadi SatriaπŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£judulnya astega, bikin galfok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Judulnya kayak sinetron di Indosiar ya.🀣

      Delete
    2. Ya kdg Satria, Kdg Satrio πŸ˜›

      Judul dan foto hanya pemanis πŸ˜›

      Delete
    3. Pemanis muluh, hati-hati kang dikerumuni semut.

      Delete
    4. Padahal orangnya ga manis ya.πŸ˜‚

      Delete
    5. Weh weh ... Kalian ngerasani siapa cuba? Anak kecil lagi semedi jadi terganggu gegara kalian.

      Yg manis siapa? Aku? Huahahaha

      Atau satrio satria? 🀣🀣🀣

      Delete

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

Komedo Cinta

Setelah apa yang meraka lalui selama ini, layaknya jerawat yang menempel pada wajah, setelah beberapa waktu jerawat itu hilang dengan sendirinya dan wajah kembali mulus hingga akhirnya Herman dan Ningsih berhasil melanjutkan hubungan cinta mereka ke jenjang pernikahan. Satu persatu tamu undangan mulai berpulangan ke rumah masing-masing, acara pernikahan yang hanya berlangsung sebentar saja karena aturan protokol kesehatan pandemi covid-19 membuat mereka memiliki banyak sisa waktu dan tenaga berduaan di malam pengantin. Waktu menunjukkan pukul 8 malam lewat sedikit, Dalam kamar tidur mereka, di depan meja rias Ningsih duduk menghadap cermin. Sementara Herman berbaring di sebuah sofa yang terletak di luar kamar bagian beranda kamar, dari beranda kamar itu Herman bisa melihat istrinya yang berada dalam kamar. Tidak jauh dari sofa tempat Herman bersantai terdapat satu buah meja Billiard dan kolam renang. Sambil bermain smartphone, sesekali ia memandang ke arah istrinya yang hanya mengenaka

Jerawat Cinta

Setelah melalui perjalanan panjang dari Jakarta ke Papua, mulai dari Ibu Kota Jakarta naik pesawat ke Provinsi di Papua lalu naik pesawat lagi ke Kabupaten yang ada di Papua selanjutnya naik taksi dari bandara ke terminal kemudian naik angkot dan akhirnya Herman sampai juga di tempat tujuannya yaitu sebuah desa kecil di pedalaman Papua dimana ia di tugaskan dan tinggal untuk sementara waktu sampai tugasnya selesai. Sesampainya di desa tersebut Herman sempat kebingungan dimana harus menginap karena tak ada penginapan disana namun setelah menemui kepala desa akhirnya ia disarankan menginap di salah satu rumah warga bernama Pak Agus dengan membayar sewa kamar Rp.500 ribu perhari, karena menurut Pak Agus orang Jakarta duitnya banyak. Herman pun menyanggupi. Hari-hari berlalu tak terasa seminggu sudah Herman tinggal disana dan mulai mengenal sebagian warga yang jumlahnya hanya sekitar 100 kepala keluarga. Namun hal paling berkesan baginya adalah bisa berkenalan dengan anak perawan Pak Agus