Kucing Makan Anak Kucing

"Hey kenapa kau menamparku" Bentaknya seraya mengitari kakaknya.

"Diam kau kecil, sudah kukatakan aku tidak suka ekorku kau gigit, terlebih saat aku sedang tidur seperti tadi" Bentak kucing remaja itu tak kalah sengitnya, ia pun balas mengitari adiknya dengan posisi siap menyerang.

Saat keadaan mulai memanas sang ibu datang membawa seekor cicak dimulutnya. "Ngeoong.. Ayo Timo & Timy dimakan dulu cemilannya" ajak sang ibu mencoba menengahi keadaan.

"Waah mama ebaat, bisa bicara meski ada makanan dimulutnya", "Kek..kekkek.." celoteh Timy diiringi gelak tawa yang disambut tawa juga oleh Timo, mereka pun akur kembali.

Sementara itu melintas kucing jantan besar tidak seberapa jauh dari mereka. "Anak-anak, sepertinya ada yang ingin mengacau pesta kita, kalian masuk duluan, biar ibu tangani ini" perintah sang ibu memperingatkan kedua anaknya.

"Tidak ibu, untuk kali ini ijinkan aku bertarung dengannya" bantah Timo. Sang kucing jantan remaja itu tak mengindahkan peringatan sang ibu, sementara Timy sang kucing kecil berlarian mencari tempat sembunyi.

"Ngeong.. Dasar tukang perkosa" Timo berusaha memancing kemarahan sang kucing jantan besar.

"Ini tidak bagus" pikir ibunya lalu buru-buru pergi, dari kejauhan untuk terakhir kalinya sang ibu memperingatkan Timo untuk pergi menghindari amukan sang kucing besar "Ayo nak cepat kabur" teriak sang ibu.

Timo tak bergeming sedikitpun mendengar teriakan sang ibu, ia hanya mengibas-ngibaskan ekornya. Tekadnya sudah bulat untuk bertarung. "Tubuhku memang tak sebesar dia tapi aku harus balas dendam, karena dia telah memperkosa kucing janda gebetanku" ujarnya membatin membuat kumisnya bergerak-gerak dan matanya berbinar-binar geram.

Sesaat kemudian sang pejantan besar datang menghampiri tepat dihadapannya. "Hey nak apa kau memanggilku?" sapa Tiger sang kucing jantan besar sambil menjilat-jilat kukunya sendiri dengan santai.

Melihat tingkah laku Tiger yang seolah meremehkannya membuat Timo semakin geram, ia langsung mengitari Tiger dan mengeong sekencangnya "Ngeoong.. Ngeooong.." ia lalu maju mundur dan pasang kuda-kuda dengan tangan kanan tetap berpijak pada lantai sementara tangan kiri terangkat-angkat seperti akan mencakar sebagai isyarat untuk memulai pertarungan.

Melihat itu Tiger hanya menguap menekuk kedua kaki dan tangannya lalu berbaring dan memejamkan mata.

"Kraakk.. Kruukk.. Kriukk" tiga tamparan ringan mendarat pada kepala Tiger. Kesempatan besar bagi Timo untuk menyerang dengan leluasa ketika lawan setengah tidur. Namun melihat tidak adanya reaksi dari lawan, ia berencana melakukan serangan kedua, ia jepit kedua ekor Tiger dengan tangannya lalu salto memutar hingga ekor Tiger seperti tertarik. Merasakan itu sontak Tiger terbangun melompat dan mundur beberapa langkah untuk mengantisipasi serangan lanjutan, sepertinya ada rasa ngilu pada kemalauannya saat ekornya tertarik. Tak menyia-nyiakan kesempatan Timo langsung melakukan serangan lanjutan namun kali ini sudah terbaca oleh lawan, Tiger meloncat kesamping beberapa inci lalu meliuk memutar badan 90 derajat dan "Hiaaat.." satu gigitan keras mendarat pada selangkangan Timo, ia menjerit sekencangnya tak kuasa menahan sakit berguling-guling dan tertelentang, ia kais-kaiskan kedua tangannya kearah Tiger isyarat agar lawan menjauh namun Tiger semakin mendekat dan menempelkan tangan kiri pada dada Timo yang sedang terbaring. "Dengar ya nak, apapun masalahmu aku tidak punya urusan denganmu jadi tolong jangan ganggu aku" ancam Tiger dengan mulut meringis dan ngeongan keras petanda ancamannya tidak sedang main-main. Kelima cakar tajamnya siap mengoyak Timo.

Belum sempat terjadi, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan keras dan sebuah serudukan menghantam Tiger dari arah belakang. Melihat itu Timo melongo, ia tak menyangka ibunya bisa seganas itu membuat Tiger terpental beberapa meter darinya, hal sama seperti yang dilakukan Tiger pada Timo, sang Ibu juga menempelkan tangan pada dada Tiger yang sedang terbaring. "Dengar ya, Tuan Tiger? kau tau dia itu anakmu darah dagingmu.." jelas Ibunya Timo pada Tiger. Sejenak suasana menjadi hening tak ada sepatah katapun dari mereka karena memang tak bisa bicara hanya bisa mengeong.

Keesokan harinya Timo bermain-main diruang tamu, ia menggiring-giring ekor cicak seperti sedang main bola sekaligus main basket, "Hiaaat.." ia ambungkan ekor cicak keatas dan menyambutnya dengan mulut "Haaapp" lalu dilahap.

Sementara dibelakangnya tak ia sadari sang kucing betina janda, Pussy sedang memperhatikannya.

"Prok.. Prokk.. Prokk.." tepuk tangan Pussy membuat Timo tersipu, malu-malu kucing. Kemudian untuk beberapa saat lamanya mereka saling jilat-jilatan dari kepala sampai ekor hingga bulu-bulu mereka menjadi basah lalu keduanya berjemur pada rerumputan depan halaman rumah majikan mereka.

Sementara itu dari kejauhan terdengar suara keributan seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar, tidak jelas apa yang mereka ributkan hanya terdengar kata yang sama "Ngeong.. Ngeong.." berulang-ulang.

Diam-diam Timo dan Pussy mengintip dari balik pagar mencari tau apa yang terjadi, tiba-tiba Timo tersentak dan berteriak "Timmyyyyyyyyyyyyy..." Timo berlari melompati pagar, ia berlari sekencang-kencangnya mengejar adiknya yang sudah tak bernyawa diatas rerumputan, yang menjadi sumber dari keributan itu. "Ada apa dengan Timy, Bu.." tanya Timo masih dalam isak tangisnya, namun sang ibu hanya diam. "Ayah?" ia melirik pada sang ayah namun ayahnya juga hanya diam. Sejenak ia angkat kedua tangan menatap langit seraya mengucap "Ya Allah?" sesaat setelah itu hujan turun dengan derasnya, "Mungkinkah ini jawaban atas pertanyaanku" batin Timo, seiring itu terdengar suara yang tidak asing ditelinga mereka, mereka menoleh kekiri dan kekanan mecari asal suara itu, suaranya semakin jelas terdengar "Hussh.. Husshh.. Saanaaah", rupanya suara itu berasal dari seorang wanita yang sedang menyiram bunga di halaman itu. "Hussh.. Hussh.." lagi-lagi wanita itu berusaha mengusir ke-empat kucing itu hingga pergi berlarian.

"Haduuuh, ini bisa-bisanya kucing makan kucing" omel wanita setengah baya itu seraya menguburkan Timy sang kucing kecil yang baru berumur beberapa hari itu. Dalam legenda kuno, cerita nenek moyang pada zaman dahulu kala yang menjadi mitos hingga sekarang, memang pernah terjadi kucing makan kucing, baik dilakukan sang ayah maupun induk kucing saat baru lahir, sebagian orang mengatakan ini terjadi kalau anak kucingnya belang tiga dan berkelamin jantan. Dimakan orangtuanya bertujuan agar kelak saat dewasa tidak memakan orang tuanya. Namun belakangan ini kenyataannya sedikit berbeda karena anak kucing sudah berumur hitungan hari pun ludes dimakan orangtuanya, hanya tersisa sedikit dibagian kepala sehingga sulit mengidentifikasi belangnya berapa. Dan ini biasanya dilakukan kucing jantan liar, entah apa motifnya yang jelas sepertinya lapar berat.

Sore harinya, senja itu Timo mendekap ditepi pagar halaman rumah menyaksikan matahari tenggelam sekaligus mencari mangsa yang mungkin kebetulan lewat. Dari arah belakang ia tak menyadari kalau Tiger menghampiri. Satu tepukan lembut ia rasakan pada pundaknya, ia kernyitkan bahunya isyarat agar jemari itu lepas dari pundaknya. "Nak" Tiger membuka percakapan. "Nak, aku tau kau sedih, tapi cobalah untuk realistis, mengerti keadaanya, kita ini cuma kucing dan.." belum sempat Tiger melanjutkan bicaranya, Timo membalikkan badan menghadap sang ayah, ia tatap mata ayahnya dalam-dalam. "Kau puas, telah menyantap adikku.." jawab Timo. "Nak, tidak begitu" jawab Tiger. "Cukup" balas Timo mengangkat kedua tangannya seperti sedang takbiratul ihram. "Nak, biar ayah jelaskan" jawab Tiger. "Aku mau sholat" balas Timo sekenanya. "Nak, mesjidnya disana" jawab Tiger menunjukkan arah yang benar menuju masjid. "Memangnya kenapa kalau magrib'an dirumah janda" balas Timo mengeong seraya berlalu pergi. Tiger hanya geleng-geleng kepala "Rupanya kau sudah dewasa nak, dan telah mewarisi sifat kucing seutuhnya", gumamnya.

Tamat. 1% Kisah Nyata 99% Fiktif.

Komentar

  1. haha sifat kucing yang seutuhnya kok kesana lagi, baru sadar kalau yang dituju bukan masjid

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nama Pemilik, Foto Serta Sejarah Berdirinya Google

Situs Tempat Download Video Dewasa 18+

Humor: Gus Miek, Daging Babi dan Santri

Download PicSay Pro Aplikasi Photo Editor Berbayar Secara Gratis

Cara Membuat Wap Di Wapka (Multi Menu)