Langsung ke konten utama
💬

Jerawat Cinta


Setelah melalui perjalanan panjang dari Jakarta ke Papua, mulai dari Ibu Kota Jakarta naik pesawat ke Provinsi di Papua lalu naik pesawat lagi ke Kabupaten yang ada di Papua selanjutnya naik taksi dari bandara ke terminal kemudian naik angkot dan akhirnya Herman sampai juga di tempat tujuannya yaitu sebuah desa kecil di pedalaman Papua dimana ia di tugaskan dan tinggal untuk sementara waktu sampai tugasnya selesai.

Sesampainya di desa tersebut Herman sempat kebingungan dimana harus menginap karena tak ada penginapan disana namun setelah menemui kepala desa akhirnya ia disarankan menginap di salah satu rumah warga bernama Pak Agus dengan membayar sewa kamar Rp.500 ribu perhari, karena menurut Pak Agus orang Jakarta duitnya banyak. Herman pun menyanggupi.

Hari-hari berlalu tak terasa seminggu sudah Herman tinggal disana dan mulai mengenal sebagian warga yang jumlahnya hanya sekitar 100 kepala keluarga. Namun hal paling berkesan baginya adalah bisa berkenalan dengan anak perawan Pak Agus yang bernama Ningsih.

Semakin hari Herman dan Ningsih semakin akrab dan berlanjut dari teman menjadi kekasih.

Sampai suatu hari di desa tersebut kedatangan BABINSA (Bintara Pembina Desa) yang juga akan tinggal di desa tersebut sementara waktu.

BABINSA tersebut juga menyukai Ningsih.

Herman mengetahui hal itu tapi tetap santai karena dia tau Ningsih lebih memilih dirinya.

***

Tak terasa waktu terus berlalu dan tugas Herman sudah selesai serta akan kembali pulang ke Jakarta.

Ningsih sedih. Namun Herman berjanji akan kembali untuk meminang Ningsih.

***

Sesampainya kembali ke Jakarta Herman seakan lupa dengan janjinya. Ia terus mengulur2 waktu ketika Ningsih menuntut janjinya melalui pesan WA.

Tak tanggung2 Herman mengulur waktu hingga 7 Tahun dan hanya berhubungan lewat WA selama itu.

Herman juga seakan berubah menjadi dingin pada Ningsih, ia lebih sering mengabaikan pesan2 WA dari Ningsih dan hanya membalasnya sesekali dengan kata maaf. "Maaf sayang lagi sibuk nih, entar aku hubungi lagi ya."

Ningsih mulai mencurigai Herman memiliki kekasih lain, namun Herman meyakinkan bahwa itu tidak benar dan Ningsih pun percaya karena selama ini Ningsih mengenal Herman sebagai pemuda jujur dan tak tau cara berbohong.

"Kalau bukan karena wanita lain lalu kenapa abang cuekin aku?"

"Abang kecanduan game." balas Herman.

"Nah tuh kan, sudahlah Bang kita putus aja, Abang nikah aja sono sama game."

Berbagai ancaman Ningsih kirim melalui WA, mulai dari mengancam putus hingga akan menikah dengan pria lain, tapi Herman tetap datar menanggapinya.

Ningsih lelah dan hampir menyerah.

Hingga suatu hari Herman mendapat pesan yang berbeda dari biasanya, kali ini sepertinya serius.

"Bang, aku di lamar BABINSA dan orang tuaku sudah setuju dan kami sudah bertunangan."

Herman panik, mencoba menelpon ningsih tapi tidak bisa, karena sinyal di desa Ningsih lemah. Dan apesnya chat Herman juga tidak terkirim. "Wah gawat ini," pikir Herman, pasti disangka saya cuek lagi padahal karena sinyal. Herman mulai gelisah dan tak tau harus berbuat apa.

Seminggu dua minggu berlalu Herman menjalaninya dengan kegelisahan. Pikiran buruk mulai menghantuinya, membayangkan kekasih yang disayanginya dimiliki orang lain. Berkali2 Herman menghubungi Ningsih tapi tidak bisa, Herman mulai berfikir yang tidak2, 

"jangan2 tunangannya melarangnya menghubungiku", itu pasti batin Herman,

"tak ada cara lain aku harus kesana, semoga belum terlambat." ucapnya sambil menangis memasukkan pakaian, powerbank, sikat gigi dan keperluan lainnya kedalam ransel.

***

Herman berangkat dari Jakarta menuju Desa Ningsih tapi setibanya disana ia merasa asing, selama 7 tahun belakangan banyak yang telah berubah, warga desa pun bertambah penduduknya dan Herman hampir tak mengenali siapapun lagi, yang tua sudah meninggal, yang muda sudah tua, yang pemuda/pemudi ikut pasangannya ke desa lain.

Namun Herman masih mengingat rumah Pak Agus ayah dari Ningsih tapi sayangnya sudah tak berpenghuni.

"Tak ada petunjuk, kemana mereka pergi?".

Karena tak menemukan Ningsih di desanya Herman kemudian mencarinya ke Kabupaten kota, barangkali Ningsih pindah kesana.

***

Minggu ketiga pencarian Ningsih.

Herman tampak depresi, nafsu makannya seakan hilang dan tak tidur sampai berhari2, main game pun ia seakan benci padahal itu hal paling ia gemari selama ini,

"Aku bahkan tak memiliki satupun foto dia" sesalnya dalam hati, Herman mencari facebook dan IG Ningsih tapi tak menemukannya karena terdapat ribuan orang bernama Ningsih, lagi2 ia menangis menyesali perbuatannya selama ini yang mengabaikan Ningsih.

Herman semakin depresi, ia mulai tertawa sendiri disepanjang jalan kota itu, "Haha.. Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik, Amiiin.." ucapnya lirih sambil tertawa.

Berkali-kali terdengar klakson dari belakang yang hampir menabraknya, Herman berjalan di trotoar namun terkadang tanpa ia sadari melangkah ke luar pembatas jalan.

Disaat bersamaan ia juga menangis dan bergumam, "Maafin aku sayang, aku pantas mendapatkan derita ini. Aku pantas," ucapnya sambil terus tersedu-sedu.

Sesekali Herman duduk dan memandang cukup lama kearah lalu lintas kendaraan, berjam-jam ia menatap dengan tatapan kosong berharap Ningsih lewat dijalan itu.

Hingga senja, terdengar azan berkumandang ia tersadar dan beranjak dari lamunannya, terlintas ide mengapa ia tidak mencari BABINSA saja barangkali dia tau dimana tempat tinggal baru Ningsih karena dia tunangannya, tapi dimana tempat tinggalnya di kota ini, aku bahkan tak ingat siapa Nama BABINSA itu, ucapnya membatin.

Keesokan harinya pagi-pagi dari hotel tempatnya menginap Herman pergi kekantor Kecamatan barangkali bisa mendapat petunjuk alamat kediaman BABINSA.

Herman buru-buru keluar hotel setelah sebelumnya menyerahkan kunci kamar dan menyantap Nasi goreng plus segelas Teh yang dihidangkan pihak hotel.

Setelah sampai di kantor kecamatan Herman mengutarakan maksudnya, mencari alamat dan nama BABINSA yang bertugas di Desa Ningsih 7 tahun lalu. Dan beruntung Herman mendapatkan alamatnya yaitu di Komplek perumahan tentara dan BABINSA itu bernama Kolonel Satria.

Herman bergegas menuju Komplek Perumahan Tentara tersebut.

"Tok.. tok.. Assalamualaikum.. benar ini rumahnya Kolonel Satria?"

"Bukan, saya penghuni baru disini. Memang sih sebelumnya Kolonel Satria pernah tinggal dirumah dinas ini, tapi menurut kabar dia sekarang tinggal di Pekuburan Pahlawan, setelah terjadi gencatan senjata dengan kelompok bersenjata waktu lalu." Jawab orang tersebut.

"Turut bela sungkawa." Ucap Herman.

"Eh, maaf kalau boleh bertanya lagi, Apakah Anda pernah mendengar Kolonel Satria bersama Ningsih, saya mencari Ningsih sekarang tinggal dimana?"

"Maaf saya tidak pernah mendengar orang bernama Ningsih di komplek ini."

"Kalau begitu saya pamit permisi." Ucap Herman.

Setelah agak jauh pergi dari bekas kediaman Kolonel Satria tersebut Herman tampak sedikit lebih bersemangat. "Yes, Kolonel Satria sudah tiada, berarti Ningsih batal tunangan dengan dia. Masih ada harapan tuk memilikinya. Ningsih kamu dimana sayang" ucap Herman kembali sedih.

Tanpa sepengetahuan Herman Kolonel Satria muncul dengan teropongnya dari atas loteng. Meneropong Herman yang berjalan keluar komplek.

"Biarlah aku yang mengalah. Kalian pantas bahagia." Ucap Kolonel Satria.

"Bercintalah dengan tenang, biar aku yang menjaga negeri ini." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.

***

Sore harinya Herman ke Mall.

Dari seberang jalan itu Herman berdiri menatap lekat sebuah Mall, "masih ada harapan" ucapnya membatin, "barangkali ada Ningsih sedang belanja di Mall itu", Herman pun melangkahkan kakinya kesana dan mendekati kasir.

"Permisi, dimana saya bisa mendapatkan minuman seperti yang diminum orang2 putus cinta di drama korea?"

"Oh, maaf Pak, tidak ada."

"Kok tidak ada. Tempat macam apa ini." Umpat Herman kesal.

"Kalau begitu beri saya minuman seperti minuman Si Khanif saja."

"Maaf, Pak, minuman yang seperti apa ya? Oh begini saja bapak silakan pilih sendiri saja ya, itu di lemari pendingin."

"Ambilkan dong. Pembeli kan raja, gimana sih." Omel Herman sambil ngos-ngosan menahan emosi.

Beberapa pengunjung yang kebetulan ada disana merekam kejadian itu yang membuat Herman semakin kesal, dia menggenggam kerah baju perekam itu dan hampir saja menonjoknya namun tak lama kemudian datang dua orang Satpam menggandeng Herman dan membawanya keluar.

Herman berjalan lunglai meninggalkan Mall dan menuju Masjid yang tak jauh disebelahnya Mall tersebut.

"Hiks.. hiks.. apa yang terjadi denganku, mengapa aku jadi liar begini." Ucap Herman sambil meremas-remas rambutnya sendiri

Game Smartphone yang selama ini ia mainkan benar-benar telah merubah karakternya menjadi emosional. Setiap hari selama 7 tahun berhadapan dengan kekerasan dalam game yang membuatnya serasa seperti veteran yang baru pulang dari medan tempur. Masih terngiang jelas di telinganya suara rentetan2 senjata dari game yang biasa ia mainkan berpadu dengan rasa hampa akibat dari rindu tak bertepi yang membuatnya seakan tak kuasa mengontrol diri dan tak kuat lagi menghadapi kenyataan hidup.

Dimesjid itu Herman menuju kran tempat berwudhu, hampir 1 jam ia membiarkan kepalanya terguyur air kran yang mengalir. Melihat itu seorang penjaga masjid datang menghampirinya dan menegurnya.

"Tampaknya Anda banyak masalah, Nak" Tegur pria bersongkok hitam dan berbaju batik tersebut, yaitu seorang penjaga masjid bernama Pak Dahlan.

Herman melirik penjaga masjid itu dan kemudian jatuh pingsan. Pak Dahlan menggotong Herman ke tempat tinggalnya yang berada di belakang masjid dan membaringkan Herman di sebuah tempat tidur. Pak Dahlan memeriksa denyut nadi Herman dan mengecek tensi darahnya, badan Herman panas tinggi sepertinya demam.

Dalam demamnya, Herman terbayang masa lalu ketika masih bersama Ningsih di pedalaman Papua, ketika Herman kena malaria dan Ningsih yang mengompres dan merawatnya. Samar2 Herman melihat Pak Dahlan tampak mirip Ningsih. Ia meraih tangan Pak Dahlan dan menciuminya serta terus memanggil2 nama Ningsih. Meskipun tangan Pak Dahlan sering dicium orang tapi bergidik juga ia tatkala Herman yang menciuminya.

"Wah, demam nih orang. Sebaiknya aku pergi membelikan dia obat." Ucap Pak Dahlan.

***

Pak Agus menghampiri Ningsih dikamarnya yang dalam 3 minggu ini masih saja terus2an menangis. Ia mengelus2 bahu anak semata wayangnya itu.

"Sudahlah Nak, ikhlas kan saja kepergian Kolonel Satria"

"Hiks.. hiks.. bukan Satria, Pak, yang aku tangisi, tapi Bang Herman."

"Haah.. Untuk apa kamu menangisi lelaki pembohong itu, dia berjanji menikahimu tapi tak pernah muncul lagi sampai 7 tahun ini, sudah lupakan saja dia."

"Tapi kan, Pak. Ini salahku juga, aku merusak sim-cardku saat emosi dengan kelakuannya dulu yang sering mengacuhkanku hingga sampai sekarang dia tak bisa menghubungiku lagi, dan akupun tak bisa menghubungi dia."

"Bisa saja kan, Pak, dia sedang mencari aku dan tak menemukan kita, karena kita juga sudah tidak tinggal di tempat dulu lagi."

Pak Agus hanya bisa garuk2 kepala membenarkan ucapan anak gadisnya itu.

"Ah bodo amat." Pikir Pak Agus.

"Lebih baik aku menonton Youtube saja, mumpung habis beli quota."

Sambil menggulung-gulung sarungnya Pak Agus menatap Tabletnya mencari-cari barangkali ada video trend yang asik.

"Pria Mabuk Mengamuk Di Mall.. Hmm?, sepertinya ini asik.." ucap Pak Agus sambil membuka video itu.

"Lho.. Lho.., bukannya ini Nak Herman, mirip banget ya? Nak, Nak Ningsih coba kemari sebentar, ini sepertinya Bapak menemukan video Herman sedang mengamuk."

"Videonya baru di unggah 7 jam lalu, dan sepertinya itu Mall di kota kita Pak,"

"Ayo Pak antarkan Ningsih kesana," rengek Ningsih pada Ayahnya.

Pak Agus mengeluarkan angkot dari garasi dan melaju menuju Mall. Namun karena musim pandemi meskipun baru jam 9 malam tapi semua tempat umum sudah tutup dan sepi.

"Yaah, Moll-nya sudah tutup."

"Pak, bapak pergi saja dulu, Ningsih ingin ke masjid sebentar buat menenangkan diri."

"Ya udah, Bapak juga mau keliling2 sebentar cari penumpang, kamu kalau ada apa2 atau mau pulang langsung telpon Bapak saja ya Nak, biar Bapak jemput."

Ningsih hanya mengangguk, dan melangkah perlahan menuju masjid yang terletak tidak jauh di sebelah Mall.

Malam itu cuaca dingin mencekam, jalanan basah karena tampaknya habis hujan, Ningsih perlahan memasuki area masjid menuju tempat berwudhu, entah apa yang menuntunnya tapi kakinya serasa ringan melangkah kesana. 

Sayup-sayup ia mendengar suara memanggil-manggil namanya, "Ningsih, Ningsih.." agak bergidik juga bulu kuduknya di masjid sepi ini ada suara memanggil-manggil namanya, "Ah, mungkin aku terlalu merindukan Bang Herman. Sehingga seperti mendengar dia memanggil-manggil namaku." Ucapnya membatin.

Dari sudut belakang masjid tampak seseorang pria bersongkok hitam dan berbaju batik sedang bergegas lewat di dekat Ningsih.

"Pak, permisi."

"Iya Nak, ada apa?"

"Saya seperti mendengar ada orang memanggil-manggil nama Ningsih dibelakang masjid, apa Bapak mendengarnya juga?"

"Oh, itu, iya memang ada tadi pemuda pingsan disini lalu saya bawa kesana, dia pingsan dan demam tinggi, mengingau memanggil-manggil nama Ningsih. Ini saya mau ke warung membelikan pemuda itu obat penurun panas."

"Pak, boleh saya melihat pemuda itu." Pak Dahlan mengamati Ningsih dari atas kebawah.

"Wah maaf Nak, tidak bisa. Peraturannya seharusnya masjid ini sudah tutup jam segini."

"Pak, pliss. Saya sedang mancari orang, barangkali orang itu yang saya cari."

"Baiklah, tapi sebentar saja ya dan harus jaga jarak."

Pak Dahlan mengantar Ningsih menemui pemuda itu, semakin dekat semakin jelas Ningsih mendengar suara Herman memanggil-manggil namanya dari dalam rumah. Setelah masuk ke dalam Ningsih melihat Herman sedang gemetar diatas tempat tidur, ia langsung mendekap Herman.

Sementara Pak Dahlan hanya bisa bergumam. "Barusan saya minta jaga jarak, eh malah pelukan, gimana pandemi mau berakhir kalau begini caranya".

"Hmm, tadinya mau belikan pemuda itu obat tapi kalau mereka di tinggal berdua takutnya malah bikin anak. Haduh serba salah." Ucap Pak Dahlan ngomong sendirian.

Setengah jam kemudian, setelah membaca pesan chat dari Ningsih, Pak Agus datang menjemput Herman dan Ningsih. Herman dibawa masuk ke angkot dan pulang kerumah Pak Agus dan Ningsih.

Keesokan harinya, di pagi itu Herman sudah pulih dan Ningsih membawakannya bubur ayam dan wedang ronde.

Setelah menghabiskan makanannya Herman berjalan-jalan kepekarangan belakang rumah Ningsih, ia berlari-lari kecil di tempat sambil merentangkan kedua tangannya menikmati mentari pagi sambil berjemur. Ia mengarahkan pandangannya pada sekeliling rumah tetangga Ningsih.

Herman melihat Om Himawan yang sedang bertengkar di beranda loteng bersama dua istrinya, Aiko dan Anjani.

Ia Juga melihat Pak Bayu yang sedang melinggis akar pohon pepaya serta mencabut jamur di gusi ikan koi.

Serta melihat beberapa orang cewek yang sedang ingin mengambil buah blackbery dan markisa di kebun belakang rumah Pak Tanza yang menjuntai ke luar pagar.

"Hayo melamun ya?" Ucap Ningsih menepuk pundak Herman dari belakang membuat Herman sedikit kaget.

Herman hanya tersenyum sambil meraih kedua tangan gadisnya itu.

"Makasih ya untuk segalanya. Aku janji akan mengurangi main game dan lebih mengutamakan kamu."

"Aku sudah nelpon mengabari Papa dan Mama di Jakarta, mungkin besok mereka akan tiba sampai disini untuk memenuhi janjiku 7 tahun lalu.. melamarmu."

"Iya, Bang" Ucap Ningsih sambil memejamkan mata saat Herman mendekatkan bibirnya ke kening Ningsih.

Tamat!

Komentar

  1. Per hari 500ribu, menang banyak tuh si Agus..wkwkwk

    Babinsa, Bintara Pembinaa Desa tapi kok pangkatnya Kolonel. Kolonel itu kan Pamen (Perwira Menengah) dua tingkat di atas Bintara?

    Ternyata di Papua ada wedang ronde juga atau setting ceritanya udah pindah ke Jawa tengah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Papua banyak yang jual wedang ronde mas.😁

      Hapus
    2. Oh, baru tau saya. Saya pikir wedang ronde hanya ada di Jawa tengah.

      Hapus
    3. Waktu di desa masih jadi Bintara pas dia ke kota naik pangkat jadi Pamen 😛 (ngeles)

      Untuk keperluan syuting di Papua jadi beli Wedang ronde-nya secara online 😛😛

      Hapus
    4. Nah kan, banyak yang jual wedang ronde di Papua lewat online mas. Jadi kalo mas Herman pesan sekarang, seminggu baru bisa minum wedang ronde nya.😁

      Hapus
    5. Bisa diterima logika..hihihi

      Hapus
    6. Karena kuatir kelamaan nunggu wedang ronde datang sampai seminggu akhirnya Ningsih bikin sendiri dgn panduan tutorial di Yutub 😛

      Tapi sepertinya ada juga kok yg jual di Papua 😅

      Hapus
    7. Oh jadi itu wedang ronde hasil buatan sendiri, jangan-jangan si Ningsih ini aslinya orang Jawa?

      Hapus
    8. Bisa jawa bisa juga bukan mas. Yg pentingkan tau resepnya siapapun bisa membuatnya.

      Tapi iya sih Ningsih aslinya dari Banyuwangi, betul gak? 🤣

      Hapus
  2. Ah ini mah keenakan si Herman, harusnya Ningsih kawin dulu sama satria terus gagal, kawin lari sama khanif gagal maning, baru deh kawin sama Herman.

    Eh gagal lagi karena Herman tetap kecanduan main game.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya kang Jaey yang bikin cerpennya jadi endingnya menyejukkan..hihihi

      Hapus

    2. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    3. Setuju mas agus, ninggalin 7thn harusnya herman sm jandanya ningsih aja

      Hapus
    4. Triple rondo dong, rondo 3x 😅

      Kasian Hermannya entar dpt yg udh "lampir" 😅

      Hapus
    5. Berarti hat trick dong..hihihi

      Hapus
    6. Wah istilah apa itu hat trick 😅

      Hapus

    7. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    8. Masa ngga tahu hattrick sih. Hat artinya benci, trick itu intrik, jadi intrik biar jadi benci.🙄

      Nyambung ngga ya? 😁

      Hapus
    9. Hat itu topi bukan benci, mas Agus. Jadi maksudnya cara bikin topi..hihihi

      Hapus
  3. Harusnya judulnya ...Akibat 7 tahun dengan Game Cinta..🤣🤣🤣

    Gw rasa Herman main game anu makanya betah sampai 7 tahun..🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul juga ya huu, bagusnya pke judul itu tapi kepangan huu..

      Wah game apa itu huu yg bikin betah sampai 7 thn 😅

      Hapus
    2. Kepangan 😅☝️

      Kepanjangan maksudku 😅

      Hapus
    3. Bagusan juga kepangan daripada kepanjangan.. hahaha

      Hapus
    4. Kepangan rambut Ningsih ya huu 😅

      Hapus

    5. Yang dikepang rambut yang mana Huu....Rambut atas, Apa rambut bawah..🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    6. Rambut yg panjang tentunya, klo yg pendek sulit dikepang 😛😛

      Hapus
  4. Itu jembatannya baru dibangun oleh Pak Jokowi yg di Papua, kan?
    Yeeey, adanya jembatan itu sangat sangat membantu masyarakat di sekitar. Memudahkan akses transportasi, mepercepat roda perputaran ekonomi.
    Terima kasih banyak pak Jokowi! :))

    Bismillah, Komisaris Waskita Karya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tau saya kang.

      Kok bisa pas ya, padahal gambarnya saya asal comot aja di fb. 😅

      Oh kang dodo diangkat Pak Jokowi jadi Komisaris Waskita Karya ya? 👍

      Hapus
  5. jadi tau banyak tentang Papua....

    Mantul ceritanya...... 👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan soal Paupa pak, tapi soal ungkapan "hadirnya terasa setelah dia 'tiada' 😅".

      Thank you 👍

      Hapus
    2. ya, ada dikit dikitlah di entry.... 😁👍

      Have a nice day

      Hapus
    3. Iya Pak masih terkait 😅👍
      Have a nice day too, pak 👍

      Hapus
  6. Lha kok, disini ada kisah Herman dan Ningsih juga?
    ternyata byk yg nulis kisah mereka berdua ya?
    hmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang, kalau yg disini versi parodinya 😅

      Belum tau ya kang, Herman dan Ningsih itu ibaratnya Romeo dan Julietnya Blogger, hihi 🙏

      Hapus
    2. 😳😳😳😳😊😊😊😊😉👍👍👍👋🏽👏

      Hapus
  7. Tu kurangi main game
    Jangan suka mengabaikan sang pacar
    Sok jual mahal
    Akhirnya kelimpungan sendiri
    Untung saja bekum nikah sama orang lain

    BalasHapus
  8. Kemudian Herman dan Ningsih hidup bahagia selamanya...
    Seminggu tinggal di Papua udah 3.500 buat nginap ditempatnya Pak Agus.. wkwk 🤣🤣 Mahal beudddd...

    Herman ini, giliran dikejar malah ngedablek, giliran ditinggal, malah dia yg ngejar.. hahah.. ngegame mulu siii 😁😁😁 jadinya galau kan.. wkwkw

    BalasHapus
  9. Ini si Ningsih antara ndablek ATO kelewat setia yaaa hahahaha. 7 tahun cuma berhubungan lwt WA, ga pernah DTG lagi ke Papua, foto sampe ga punya, pacar apaaa ituuuu hahahaha. Udh bhabhaaaay sih kalo aku :p. Mendingan Ama satria ini hihihi

    BalasHapus

Posting Komentar

Recent Posts

Popular Posts

10 Hal Seputar Mimpi Basah Yang Mungkin Belum Anda Tahu

Contoh dan ilustrasi mimpi basah. apa yang diimpikan maupun dirasakan saat mimpi basah. ciri ciri mimpi basah lelaki itu mimpiin apa sih? serta manfaat mimpi basah apakah memiliki efek samping. Buat para remaja pria, pernahkah terbangun dari tidur karena merasakan sesuatu yang basah dan lengket pada celana dalam atau piyama? Pada awalnya mungkin mengira kamu telah mengompol. Tetapi jika sudah pernah mengalaminya atau sudah melewati pubertas, mungkin saja kamu mengalami mimpi basah. Apa itu mimpi basah? Dikutip dari Medical News Today, mimpi basah adalah ketika seseorang orgasme tanpa sadar saat mereka tidur karena mimpi, yang mungkin erotis atau mungkin juga tidak. Mereka disebut mimpi basah karena ketika seorang pria memiliki jenis mimpi ini, ia dapat terbangun dengan pakaian atau tempat tidur basah. Ini karena air mani, sperma yang mengandung cairan, dilepaskan saat ejakulasi. Banyak hal yang menarik diketahui tentang mimpi basah. Berikut di antaranya. 1. Mimpi basah tid

Tahi Lalat Cinta

Tahi Lalat Cinta ini masih terkait dengan Cerpen sebelumnya Komedo Cinta dan Jerawat Cinta. Seperti biasa 100% fiktif. Keluarnya Kolonel Satria yang mengundurkan diri dari Agensi secara tiba-tiba tanpa sebab membuat Pimpinan Agensi pusing tujuh keliling, karena harus mencari penggantinya yang baru. Tidak sembarang Agen dapat mengemban tugas rahasia ini. Karena ini tugas pengintaian jadi sepertinya kurang cocok jika menggunakan jasa Iko Uwais, karena dia tipe duel. Begitu juga dengan Jason Statham yang tipe duel. Namun bagaimana dengan Mark Wahlberg? Ya sepertinya dia cocok, wajahnya tampak penyabar lumayan cocok jadi pengintai pengganti Kolonel Satria. *** Di Mall, dari sebelah rak itu Mark mengikuti Ningsih yang sedang memilih barang. Ningsih ingin menjangkau barang yang tinggi tapi tidak sampai dan Mark membantunya hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, mereka gugup dan melepaskan barang itu hingga jatuh ke lantai, spontan mereka memungutnya secara bersamaan dan lagi-lagi ta