Langsung ke konten utama
💬

Fake Gangsters : The Cycle of Life

 Hanya fiktif buat seru2an aja. Mohon maaf Jika ada kemiripan nama maupun lokasi.



Disebuah cafe sekitar pantai Losari seorang pria bernama Agus Halilintar tengah memperhatikan para pengunjung cafe tersebut, matanya tertuju pada seorang pria besar berotot dan botak yang sedang makan telur rebus disudut cafe, Satrio Corbuzer. Agus lalu menghampirinya.


"Boleh saya duduk disini?" Tanya Agus menunjuk kursi yang berada dekat Satrio. Satrio hanya mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.


Agus lalu bercerita. "Saya ngefans sama The Rock. Sewaktu remaja saat main game SmackDown di PlayStation (PS), saya selalu memilih The Rock sebagai jagoan saya. Dia mirip anda, ber-otot dan botak." Ucap Agus sambil menatap Satrio penuh kagum. Satrio sedikit tersedak dan minum lalu tertawa terpingkal2, otot2 dari susunya bergerak2 mendengar penuturan dari Agus.


***


Sepanjang perjalanan menuju sekolah untuk menjemput putrinya, Satrio masih terus senyam-senyum mengingat obrolannya dengan Agus di cafe tadi.


Setelah dalam mobil bersama putrinya menuju pulang kerumah.


"Syifa sayang. Ayah berfikir ingin menjual mobil ini. Mungkin ini terakhir kalinya kamu Ayah jemput dengan mobil ini." Ucap Satrio pada putrinya, Syifa Haju.


"Terserah Ayah sajalah. Oh iya Ayah Syifa sudah lama berfikir ingin bekerja, mungkin bekerja di toko perhiasan." ucap Syifa pada Ayahnya. Satrio hanya diam. Ada rasa tak tega membiarkan putri semata wayangnya untuk bekerja. Tapi setelah dirinya di pecat dari Profesinya sebagai Debt Colector, kini ia jadi pengangguran, tak punya penghasilan lagi. Sementara ia harus bayar kontrakan dll, tak ada pilihan lain selain menjual mobil miliknya dan juga merelakan putri kesayangannya untuk bekerja.


***


Keesokan harinya Agus diundang oleh Amran Paris kesuatu tempat. Dipekarangan belakang rumah itu tampak seorang laki2 yang sedang terikat di pohon pisang. Berteriak2 kesakitan karena di gigit ratusan semut yang sengaja di taruh oleh anak buah Amran. Amran bergigi emas, kalung emas besar, dan jari2nya penuh cincin batu akik, dia merupakan bos dari Agus Halilintar.


"Gus, lihatlah laki2 itu. Begitulah nasibnya jika tak mampu bayar hutang." Ucap Amran pada Agus. Agus bergidik melihat itu. Tak terbayangkan mungkin nasibnya akan seperti laki2 itu jika hutangnya pada Amran tak bisa ia bayar.


***


Agus pusing memikirkan bagaimana caranya supaya dapat membayar utang pada bos-nya itu. Bisnis obat terlarang miliknya, bisnis penggelapan mobil mewah, perdagangan perempuan, penggelapan senjata, semua bisnisnya itu sedang mengalami kerugian dan diambang kebangkrutan.


Merosotnya bisnis terlarang milik Agus ada kaitannya dengan gencar2nya pihak orang2 baik yang terus mensosialisasikan bahaya narkoba, pelacuran, miras, dan sebagainya. Agus geram dengan pihak2 orang baik tersebut. Rasa murkanya bertambah tatkala duitnya hilang yang menurut dugaan sementara duitnya dibawa kabur oleh istri dan anak buahnya yang berhianat.


"Agus mereguk mirasnya dan menghentakkan gelasnya di meja." Pikirannya kacau. Matanya liar memandang sekeliling bar tempat ia nongkrong tersebut. Tanpa sengaja matanya tertuju pada seseorang di meja bagian pojok dalam bar itu. Seorang pria berotot dan botak yang juga sedang menghentakkan gelasnya ke meja. Agus lalu menghampirinya.


"Bertemu lagi kita bro, saya Agus." Sapa Agus sambil menyodorkan tangan untuk berkenalan dengan pria botak dan berotot itu.


"Saya Satrio." Jawab pria botak itu menyambut salaman Agus.


Setelah saling ngalor ngidul beberapa saat lamanya, Agus mengutarakan maksudnya pada Satrio.


"Saya ingin membunuh orang, maukah kamu membunuhkan orang itu untukku?." Pinta Agus menawarkan pekerjaan pada Satrio untuk menjadi pembunuh bayaran.


"Kamu mabuk Gus,, Pulanglah.." jawab Satrio sambil memegangi kepalanya sendiri yang botak itu. Kepalanya juga pening, pengaruh dari banyak masalah dan juga miras.


"Aku tak habis pikir. Mengapa orang yang punya banyak masalah cenderung lari ke miras. Padahal justru efek miras itu menambah pusing." Ucap Satrio sambil menenggak minumannya, bukan lagi dari gelas tapi langsung dari botolnya.


"Kamu sok bijak." Timpal Agus yang diiringi gelak tawa oleh mereka berdua.


***


Dari bar. Agus dan Satrio bersantai di puncak bukit di Papua. Segala pemandangan indah lautan biru kehijauan tampak dari atas puncak itu. Disana, Agus dan Satrio muntah2 efek dari mabuk di bar tadi.


"Anak kesayanganku, Syifa Haju sudah beberapa hari ini tidak pulang kerumah. Menghilang." Ucap Satrio sambil menangis. "Mungkin ini balasan atas ulahku selama ini, sebagai Debt Colector aku merampas secara paksa. Sehingga aku juga merasakan bagaimana rasanya dirampas, anakku hilang entah siapa yang merampasnya dariku."


SELINGAN SOUNDTRACK: Kumenangis meratapi, kepergianmu dari sisi hidupku. Haha, upss!


"Akupun begitu, Kang." Agus menimpali Satrio.

"Istriku. Ningsih. Dia jauh lebih muda dariku, umurnya baru 25 dan aku 40." Ucap Agus sambil membangunkan Satrio yang tertelungkup ditanah.


"Tapi, Ningsih juga menghilang, Kang." Tambah Agus lagi, menceritakan kisah hidupnya yang tak kalah tragis dengan nasib Satrio. sambil sesunggukan Agus mencoba berdiri meskipun kakinya goyah efek dari sisa mabuk, ia terus berupaya berdiri sambil merentangkan tangannya dan berteriak dengan kencangnya "Aku Agus Halilintaaaaarr". Teriakan Agus menggema diatas puncak itu sebelum akhirnya dia tersungkur kembali ke tanah.


"Terakhir kumelihat istriku.. ada di hotel milik Amran Paris, dia bosku.. Aku curiga dia pelakunya karena aku tak mampu membayar hutangku padanya." tambah Agus melanjutkan ceritanya. Satrio hanya mendengarkan sambil membersihkan bajunya.


"Aku sudah lapor Polisi atas menghilangnya anakku. Tapi berminggu2 belum ada kabarnya. Menghilang tanpa jejak petunjuk apapun." Ucap Satrio.


"Sampai suatu hari aku membaca berita online di internet. Ada gadis remaja tertabrak dan meninggal ditempat, gadis itu seumuran putriku. Hatiku semakin teriris membaca itu, aku takut bagaimana dengan nasib putriku diluar sana." Ucap Satrio lagi.


"Akupun merasakan kekhawatiran yang sama Kang, atas istriku. Kita tak tau apa yang terjadi diluar sana. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik buat mereka, kita sedang berada diatas puncak bukit, kurasa kita lebih dekat dengan Tuhan, Dia akan mendengar doa kita." Ucap Agus mencoba menenangkan Satrio.


"Kamukan bos mafia, Gus. Mengapa kamu tidak mengerahkan semua anggotamu, mencari istrimu?" Tanya Satrio.


"Mafia apa toh Kang. Saya cuma punya tempat diskotik kecil2an yang tersebar dibeberapa wilayah. Rata2 gedungnya dilantai bawah tempat minum2 dan beberapa kamar di lantai dua buat ngerondo dan transaksi narkoba sekaligus kantor di lantai tiga." Jawab Agus.


***


Sepulang dari puncak. Sesampainya di kantor bar/clubing miliknya. Betapa terkejutnya Agus menyaksikan Amran Paris tengah duduk dimeja kerjanya menyambut kedatangannya. Sejenak ia teringat akan penyiksaan bos-nya itu pada seorang laki2 waktu lalu. "Tapi aku orang Indonesia asli. Aku harus lebih galak daripada yang memberi hutang." Pikir Agus membatin.


Agus mendekati Amran, meraih kalung emas besar dileher Amran, lalu memelintir kalung itu hingga Amran tercekik.


"Kamu kan? yang menyembunyikan istriku. Ayo jawab. Kamu tega banget sih, Menyembunyikan istriku, istri dari sepupumu sendiri, hanya karena utang. Sadar Bang, Kita ini saudara Bang, kita sepupu." Ucap Agus tersedu2 pada Amran.


Anak buah Amran bergerak, menodongkan pistol kearah Agus, tapi Amran mencegahnya dengan memberikan kode telapak tangan agar anak buahnya stop.


Sadar dirinya ditodong pistol oleh 10 orang anak buah Amran, Agus melepaskan cengkramannya dari kalung Amran.


"Kamu melihat istrimu di hotel milikku? Bukan berarti aku yang menyembunyikan istrimu." Ucap Amran mulai dapat bicara setelah Agus melepaskan cengkraman di lehernya.


"Siapapun bebas berkeliaran di hotelku, termasuk istrimu. Karena itu memang tempat umum." Timpal Amran.


"Begini saja Gus." Ucap Amran lagi.


"Clubing yang kau kelola ini akan aku ambil alih. Dan mungkin akan kujual untuk menutupi sebagian hutangmu dan hutangku. Aku tau kita bersaudara tapi maaf.. aku harus melakukan ini karena aku juga berhutang pada orang lain."


"Tapi ingat, Gus. Itu hanya cukup membayar sebagian hutangmu saja. Sisanya kau harus membayarnya dengan bekerja jadi pelayan di hotelku, tanpa gaji." Ucap Amran lagi. Sambil menggoyang2kan telunjuknya memberi Agus peringatan.


"Ayo kita pulang." Ucap Amran pada semua anak buahnya.


"Oh iya Gus. Aku ingin mengingatkan satu hal lagi padamu." tambah Amran lagi.


"Uang tak mengenal saudara." Ucap Amran menyeringai, sambil memasang topi, mengepit tongkatnya dan berlalu pergi dari tempat itu.


SELINGAN: Mafia banget ya Pak Amran Paris ini, hihi..


"Dan peluru tak mengenal lawan maupun tuan-nya." timpal Agus tak kalah menyeringai, setelah Amran pergi.


SELINGAN: Yaah.. Agus Halilintar beraninya pas Amran sudah pergi ya, berat di nama nih kayaknya Mas Agus, hihi..


***


Baru beberapa minggu bekerja sebagai pelayan di hotel milik Amran. Pada hari ini Agus akan bekerja seperti biasanya tapi sebelum masuk pekarangan, di luar pagar Amran sudah menunggunya.


"Ayo kita pergi, Gus" ajak Amran pada Agus. Agus pun bermaksud akan masuk ke mobil Amran, tapi Amran mencegahnya. "Kita pakai mobilku yang baru saja Gus." kata Amran. Agus pun menurut. Amran menyetop taksi dan mempersilahkan Agus masuk. "Taksi inilah mobil baruku, Gus." Ucap Amran bergurau. "Aku sudah bangkrut tak punya apa2 lagi." ucap Amran kemudian bernada sedih.


"Oh ya Gus, aku minta maaf ya soal kemarin, yang mengatakan uang tak mengenal saudara.. bla..bla..! Aku tak bersungguh2 mengatakan itu.." ucap Amran.


"Ah gpp Bang.. aku juga minta maaf tidak bisa bayar hutangku hingga akhirnya kau jadi ikutan bangkrut." Jawab Agus.


"Andai aku tak mengaggap kau saudaraku, Gus. sudah sejak lama nasibmu akan seperti laki2 yang terikat dipohon pisang dan dikerubutin semut dibelakang rumahnya waktu itu." Ucap Amran pada Agus.


"Surpraiiiiiis.. Aku mendengar kalian." Tiba2 supir taksi yang mereka tumpangi ikut bicara.


"Lho.. Kang Satrio toh, jadi supir taksi ya skrg?" Tanya Agus sambil mengamati si supir taksi. Tanpa sepengetahuan Agus rupanya dia menaiki taksi milik Satrio.


"Siapa si botak itu?" Tanya Amran pada Agus, sambil menunjuk si supir dengan bibirnya.


"Ceritanya panjang, Bang. Tapi intinya kami mengalami masalah yang mirip2, dia anaknya hilang saya istri saya yang hilang." Jawab Agus kembali sedih, teringat kembali dengan istrinya.


"Iya kebetulan banget kita bertemu lagi, Mas." jawab Satrio pada Agus.


"Aku sengaja bekerja jadi supir taksi, siapa tau aku bisa menemukan Syifa, putriku." Tambah Satrio lagi, kali ini suaranya terdengar seperti menahan tangis.


"Emang dulu profesinya apa?" Tanya Amran pada Satrio.


"Sueee. Bukannya peduli pada anakku yang hilang malah menanyakan profesiku." Celoteh Satrio bergumam nyaris tak terdengar.


"Debt Colector." jawab Satrio kemudian.


"Aku benci Debt Colector.. gara2 mereka aku kehilangan hotel dan mobil2 mewahku, dan terpaksa naik taksi seperti ini." balas Amran sambil memalingkan wajah.


"Aku suka orang yg bicara blak-blakan." Balas Satrio pada Amran sambil melihat ke spion dan tersenyum pada Amran di kursi belakang.


"Perkenalan yang mengesankan." Celetuk Agus nyaris tak terdengar. Sambil melepas dasi kupu2nya.


"Jadi, Orang itu ya Gus? yang kau suruh aku membunuhnya waktu itu."


"Ssttt. Itukan omonganku pas sewaktu lagi mabuk Kang." Jawab Agus tersipu. Agus pernah keceplosan saat mabuk, ingin membunuh Amran.


SELINGAN: Jangan heran ya pemirsa, obrolan ala mafia memang begini, hihi..


"Jadi, apa rencana Bang Amran kedepan?" Tanya Agus.


"Hanya ini hartaku yang tersisa Gus." Amran tersenyum memperlihatkan gigi emasnya. "Kurasa aku akan menumpang dirumahmu sementara ini, Gus." Jawab Amran kemudian.


"Bukannya rumahku sudah kamu ambil alih dan jual ya?" Jawab Agus sambil tersenyum. Amran hanya bisa tepuk jidatnya sendiri karena lupa.


***


"Siiiiit.." tiba2 Satrio mengerem taksinya. "Sepertinya aku melihat Syifa, anakku. Naik taksi itu." Celoteh Satrio dengan wajah tegang dan kemudian mengikuti taksi yang diduganya ditumpangi Syifa tersebut. Agus dan Amran juga ikut tegang karena Satrio memacu taksinya dengan kecepatan tinggi.


Aksi kejar2an antara taksi Satrio dengan taksi Syifa pun terjadi dari daerah bandara hingga ke suatu daerah di pegunungan. Taksi yang ditumpangi Syifa disusul satu buah taksi lainnya juga berhenti tepat di satu2nya rumah yang lumayan bagus diatas bukit tersebut.


Dua buah taksi itu pergi setelah menurunkan 4 orang penumpangnya, sepasang laki2 dan perempun. Herman dan Ningsih, Jaey dan Syifa.


Satrio turun dari taksinya disusul Amran dan Agus. Satrio berkacak pinggang dihadapan 4 orang muda-mudi tersebut.


"Ada yang bisa menjelaskan semua ini?" Tatap Satrio kepada 4 orang tersebut sambil melotot.


Ajaey yang paling tampan disana gemetar jemarinya sambil menunjuk ke arah Herman. Berharap Herman menjelaskan.


Herman merentangkan kedua telapak tangannya sambil berkata. " Tenang bapak2 semua." Agus terlihat geram melihat Herman sementara Amran hanya mondar mandir menikmati pemandangan sekitar bukit itu. "Kalau ada yang jatuh dari atas bukit ini kurasa tak akan selamat." Celoteh Amran. Mendengar celoteh Amran tersebut membuat Ajaey dan Herman semakin ciut. Dalam pikiran mereka menduga2 mungkin mereka bakal dibuang kejurang.


Amran meraih pistol dari balik mantelnya dan melemparkannya ke Agus dan Agus menangkap pistol itu.


"Selesaikan sudah! Tunggu apalagi!" Seru Amran memanas-manasi Agus. Agus yang memang sudah panas menodongkan pistolnya ke arah Ningsih. Herman bingung melihat itu, kok Ningsih yang ditodong Agus. Sementara itu Satrio menarik lengan anaknya, Syifa, dan memeluknya.


"Syifa sayang anak Ayah. Kamu kemana aja sayang? Pergi gak bilang2 sama Ayah." Tanya Satrio pada Syifa sambil membelai dan mengelus2 punggung putrinya.


"Kamu gak papa kan? Kamu gak diapa2in kan sama si Ajaey?" Tanya Satrio lagi.


"Gak kok Ayah. Ajaey orang baik." Jawab Syifa sambil terus menempel pada dada Ayahnya yang bidang. "Syukurlah.." jawab Ayahnya senang.


SELINGAN: Waduh pemirsa, kameranya jadi sibuk nih harus menyorot siapa. Semua pemerannya ngobrol bersamaan. Kebanyakan pemeran kayaknya, hehe! Ya udah fokus ke Agus.


"Dimana uangku yang kau bawa kabur?" Tanya Agus pada Ningsih, istrinya, sambil terus menodongkan pistol.


"Sejak 5 bulan kabur dari rumah, dan saat ini kita bertemu lagi. Yang pertama kau tanyakan adalah uangmu. Aku semakin mengerti dengan hubungan kita. Sebenarnya yang kau kuatirkan hilang itu bukanlah aku tapi uangmu. Iya kan Mas?" Jawab Ningsih pada Agus.


"Memangnya aku tidak tau, saat aku tidur kau mengendap2 menemui seketarismu.. Aku juga tau kamu patungan buat menyewa Model Bispak.. Dasar kamu, Mas." Umpat Ningsih pada Agus. Membuat Agus semakin emosi dan tampak akan menarik pelatuk pistolnya tapi Herman buru2 menghadang melindungi Ningsih. "Tembak aku saja, Mas." pinta Herman pada Agus.


"So sweeet.." celetuk Amran dari kejauhan.


"Dan kau, Man." bentak Agus pada Herman sambil terus monodongkan pistol.


"Tega2nya kamu merampas uang dan istriku. Padahal dulu kamu merupakan tangan kananku yang paling kupercaya." Lanjut Agus.


"Dan kamu Jaey..??" Agus berpaling menodongkan pistol pada Ajaey.


"Jawaaaab?" Bentak Agus. Ajaey hanya menunjuk ke Herman. "Saya diajak Herman, Mas" jawab Ajaey.


"Enyah kau.." Ucap Agus dengan gelagat akan menarik pelatuk pistol. Tapi Syifa buru2 menghadang melindungi Jaey.


"Siapa kamu ikut campur." Bentak Agus pada Syifa.


"Turunkan senjatamu!", "Sehelai saja rambut Syifa jatuh. Maka kau akan jadi kornet." Ancam Satrio pada Agus.


Merasa mendapat dukungan dari Satrio Corbuzer, Ajaey jadi berani ikut berceloteh, "Atau ngga jadi ayam geprek" timpal Jaey menimpali perkataan Satrio. Alih2 mendapat dukungan dari Satrio, Satrio justru menenteng kerah baju si Jaey seperti menenteng guling. Herman yang dari tadi diam jadi ikut berceloteh. "Ringan amat kamu Jaey." Celoteh Herman. "Dosaku sedikit, Man. jadi ringan deh." ucap Jaey membalas celoteh Herman. "Belum pernah di SmackDown ya, kalian berdua?" Ucap Satrio sambil memamerkan otot2nya yang besar.


Sesaat kemudian Herman berpelukan dengan Ningsih dan Jaey berpelukan dengan Syifa.


Melihat mereka berpelukan, Amran jadi melirik Satrio. "Hey pria botak. Jangan harap aku memelukmu." Ledek Amran pada Satrio. "Akupun ogah memelukmu." Balas Satrio dan pada akhirnya mereka berpelukan juga.


"Arrrrgggghh.." Agus semakin kesal melihat semua kekacauan itu. Ia berteriak sejadi-jadinya dan menembakkan pistol ke udara berkali2. "Dor.. dor.. dor..!!".


** Flashback **


5 bulan yang lalu Herman dan Jaey merupakan anak buah kepercayaan Agus. Tapi mereka berkhianat dan penghianatan mereka di dukung oleh Ningsih yaitu istri dari Agus. Dan mereka berhasil membawa sejumlah uang milik Agus. Hingga Agus hampir bangkrut dan berhutang pada Amran. Ningsih tidak mencintai Agus karena Agus sering selingkuh. Lengkap sudah kebencian Ningsih pada Agus.


Selama waktu pelarian mereka bertiga, Herman, Ningsih, dan Jaey. Seiring berjalannya waktu, Herman dan Ningsih saling jatuh cinta. Sampai suatu hari Herman dan Ningsih ke toko perhiasan akan membeli cincin kawin dan Jaey ikut bersama mereka. Sesampainya di toko perhiasan. Jaey jatuh cinta pada gadis karyawan toko perhiasan tersebut yaitu Syifa anak dari Satrio. Hanya dengan mengatakan, "Syifa, kau lebih indah dan berkilau dibanding semua perhiasan yang ada di toko ini.", Syifa langsung jatuh cinta pada Jaey. Cinta Jaey bersambut dan Syifa berhenti bekerja dari toko perhiasan tersebut dan lebih memilih ikut bertualang bersama Jaey, Herman dan Ningsih. Syifa senang bersama2 mereka, karena mereka sering mengajak Syifa jalan2 keluar negeri, keliling dunia menggunakan duit Agus. Kesenangan itu yang membuat Syifa lupa dengan Satrio, ayahnya.


***


Beberapa hari setelah semua kejadian itu. Di haluan Kapal SpeedBoat, Agus dan Amran berjemur.


"Bagaimana dengan uangmu apa sudah mereka kembalikan?" Tanya Amran.


"Sudah. Tapi sisa sedikit, hanya cukup buat beli motor Astrea." Jawab Agus.


"Terus bagaimana dengan sisa hutangmu padaku?" Tagih Amran.


"Ambil saja SpeedBoard ini, tapi ijinkan aku tinggal di Kapal ini bersamamu. Kita kan saudara." Jawab Agus.


"Baiklah.. aku setuju." Balas Amran.


"Oya Gus. Apa kamu mencintai Ningsih?" Tanya Amran pada Agus.


"Cinta! Apa itu cinta?" Jawab Agus kemudian.


"Aku Agus Halilintar. Bagiku, cinta seperti ungkapan pria menikah pada umumnya. Akan membosankan jika makan sayur lodeh setiap hari. Putus cinta ataupun Perceraian, semua itu bertujuan agar punya kesempatan mencicipi sayur lainnya. Bukankah itu menyenangkan?" Ungkap Agus pada Amran.


"Nah, itu baru pemikiran mafia sejati." ucap Amran, sambil mengetuk lantai 3 kali.


***


Akhirnya Agus terpaksa membebaskan Herman, Ningsih, dan Jaey. Jika mereka dilaporkan ke Polisi atau dibunuh, Agus juga bakal terseret masuk penjara karena bisnisnya ilegal. Herman dan Ningsih pindah ke luar kota dan berjualan cilok yang dicampur narkoba disana. Jaey pulang ke desa berkebun ganja. Syifa Haju jadi artis dan melanjutkan sekolah SMA. Amran Paris jadi tukang Tatto dan mengedar ganja dalam batu akik. Agus Halilintar mengganti nama belakangnya menjadi Warteg, membuka warung remang2 dan menyamar jadi tukang ojek. Satrio Corbuzer membuka bisnis Casino berkedok kursus SmackDown dan menjual obat penambah otot.


Tamat!


Komentar

  1. Happy ending ternyata, kirain ada bunuh-bunuhannya namanya juga cerita sindikat kejahatan ternyata ngga.
    Btw kenapa mesti ada selingannya, kan bikin bacanya jadi ngga fokus dan jadi pengen ketawa.?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih kelas gadungan jadi belum berani bunuh2an 😆

      Selingan tujuannya buat menutupi rasa kurang pede si penulis 🤣

      Hapus
    2. Ceritanya udah bagus dan layak dibaca, kenapa masih kurang pede, kang?

      Hapus
    3. bener menurut aku mah udah bagus mas jaey

      Hapus
    4. Betul, tulisannya sudah bagus kang Jaey, semoga saja Joko Anwar melihat cerpen ini dan dibawa ke produser.😃

      Hapus
    5. @Kal, entahlah mas 😆

      @Mbak, sungkem buat suhu @Mbul 😆

      @Agus, ah ga mgkn. 😆

      Hapus
    6. Mungkin saja kang, siapa tahu produsernya lagi butuh kertas buat bungkus nasi.😂

      Hapus
    7. Entahlah, jawaban yang membuat penanya tersungkur di pojokan..hihihi

      Hapus
    8. Becanda suhu jaey, jangan patah semangat dong, siapa tahu nanti cerpen ini tayang di Indosiar.😃

      Hapus
    9. Ngga mau kalah sama mas Agus nih, ganti template..hihihi

      Hapus
    10. Iya terinspirasi. Jiwa edit-mengedit ku mendadak muncul lagi 🤣🤣

      Hapus
    11. Kalo saya penginnya yang gratisan saja dan tak usah ngedit, tinggal upload saja.��

      Hapus
    12. Ngedit sendiri kadang asik mas bisa sesuai selera tapi mumetnya itu dan menyita waktu juga 😆 apalagi ngeditnya sambil belajar dari tutorial di gugel 😆😆

      Hapus
  2. asem ih aku jadi banyak ketawanya mas jaey hahhahahah

    kok iso kayak gini ya alur dan dialog2nya, mana tiap baca selingan aku ketawa dulu lagi 😳😆

    mana kelihatan tukang kekernya pula 😂


    tapi aku udah mbatin kalau ningsih pasti dibawa lari herman, dan syifa jatuh cintrong di pelukan ajae cieileee 😂😂

    beydewey, dialog dialognya mafia banget, uang tak mengenal saudara, n cinta n sayur hahahah, aku uda kayak nonton film mafia sekelas vin diesel n jason statham :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya selingannya bikin ketawa dan sakit perut, penulisnya gokil nih.. huh hi

      Hapus
    2. Kenapa harus ada selingannya, karena hidup ini butuh selingan, kata penulisnya.😄

      Hapus
    3. @mbak, iya tukang kekernya pengen ikut nimbrung juga 😆

      @kal, selingan hanya pemanis 😛

      @agus, tul sul. 😛

      Hapus
    4. Jangan jangan tukang keker nya itu Ajaey gile.😆

      Hapus
    5. Yg ngeker ayam. Ceker ayam 😆

      Mas @ka el kaget kenapa? 😆

      Hapus
  3. Setuju banget dengan komentar mas Herman. Kang Jaey akhir akhir ini makin bagus cerpennya. Sepertinya akan menyusul bang satria jadi novelis.

    Kirain aku yang diikat di pohon pisang terus dikasih semut itu bang satria.🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya 'yg diikat dipohon pisang' itu mmg terinspirasi dari novel kang satria dan dari cerpennya mas agus juga "ttg patungan" digabungin kedalam cerpen ini jadi satu, wkwk 😆😆

      Hapus
    2. Kang Jaey gitu loh.. komentar sama status FB aja bisa dijadikan cerpen..

      Hapus
    3. Ayo mas her jangan kalah, bikin cerpen dong

      Hapus
    4. kita bikin cerpen yuk berempat hahahhaha

      Hapus
    5. Gimana caranya bikin berempat mbak, mbak 😆

      Hapus
    6. Kan bisa pakai grup gitu, jadi misalnya mbak mbul lebih dulu ngasih cerpen, lalu aku kasih ide, terus suhu Ajaey sama suhu Kal El yang menyempurnakan gitu.😃

      Hapus
    7. Oh gitu. Aku ga ikutan ah. Aku mikir mau nulis sesuatu itu lamaaaaaa, saking lamanya kdg blank 🤣🙏

      Hapus
    8. Maksudnya 5 orang bikin cerpen dengan cerita masing masing hahhhahahha

      Hapus
    9. Sama kayak kang Jaey, ngga ikutan..hihihi

      Hapus
    10. Aku juga ngga ikutan ah, soalnya belum mahir seperti para suhu.

      Hapus
    11. sekarang kolom komen dimoderasi apa mas jaey, 😆

      setelah aku baca baca ulang aku baru engeh plesetannya amran paris itu 🤣🤣🤣. anggota mwb dijadikan satu ama artis hihi

      Hapus
    12. Ga di moderasi mbak. Mgkn gara2 ganti tema 😆

      Hotman Paris, idolaku 😆😆

      Hapus
    13. Ga di moderasi mbak. Mgkn gara2 ganti tema 😆

      Hotman Paris, idolaku 😆😆

      Hapus
    14. Udah ngaku saja kang jaey, ngga apa-apa kok.

      Ngaku saja komentar tidak di moderasi.😂😂😂

      Hapus
  4. Haaahaaaaa!!! Dari Halilintar ke Warteg Jauh amat..🤣🤣🤣

    Mending Agus Rongdo saja..🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendingan Agus rongdo dari pada Agus sueee.😂

      Hapus
    2. Posting blog kang satria berat, cuma terbuka separoh, gabisa komen aku jadinya 😆😆

      Hapus
  5. Harusnya Herman jangan jual Cilok dia lebih cocok jual boneka Sex Toy Dor to Door Haaaaahaaaa!!..🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya sampean yang cocok kang, soalnya suka nyobain dulu.😁

      Kaboorrrr 🏃🏃🏃

      Hapus
    2. Boneka sex toy makin canggih loh skrg, bisa bersuara 😆

      Hapus
    3. Welahdalah, mampir ke sini lagi sambil ngelus dada baca percakapannya , eh astaganaga, tak kabur dulu hahhahahhahaha

      Hapus
    4. Banyak anak kecil disini suhu Ajaey.😂

      Hapus
    5. Ya benar karena aku masih kecil, jadi nda tau apa apa :D

      Hapus
    6. Oh jadi tul sul itu sama dengan tul mbul gitu ya? 🤭

      Hapus
  6. Ini mau berantem, tapi kok masih sempat2 nya melawak yaa mas kwkwwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Gangsters Elite memang begitu gayanya 🤣

      Hapus
    2. Jadi ingin bikin cerpen juga yang temanya gangster, biar beda gitu sama biasanya.������

      Tapi bagus tidak ya, soalnya belum pernah bikin cerpen gangster, sepertinya harus berguru pada suhu Ajaey nih.������

      Hapus
    3. Waah ini Agus Halilintar nya muncul :D

      Hapus
    4. Sudah ganti nama dia jadi Agus Warteg 😆😆

      Hapus
    5. @Mas Agus, Gengster biasanya tak melulu soal berantem, banyak juga yg soal harta tahta dan wanita. Sama aja sih sebenarnya kisah2nya dgn kisah roman maupun horor. Yg membedakan itu cara bicaranya, misalnya kisah cinta dicerita action biasanya gaya bahasanya to the poin ga dramatis 😆

      Hapus
  7. namanya hampir sama ya seperti yang terkenal dengan nama panggilan itu
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama2 anak bloger digabungin sama artis 😆

      Hapus
  8. Cảm ơn chia sẻ của bạn, mọi thứ ở đây đều tốt
    Tôi là Food Blog tôi có nhiều sở thích. Tôi thích đi du lịch và đọc sách. Nhưng sở thích yêu thích của tôi là nấu ăn. Hãy để tôi nói cho bạn biết lý do tại sao! Đầu tiên, tôi sẽ cho bạn biết một chút về lý do tại sao tôi bắt đầu nấu ăn. Thứ hai, tôi sẽ cung cấp cho bạn một số thông tin về những gì tôi thích nấu. Thứ ba, tôi sẽ nói cách tôi sử dụng food near me để nấu ăn.

    Khi tôi bắt đầu nấu ăn, tôi 10 tuổi. Mẹ tôi muốn tôi trở thành một đầu bếp. Bà luôn tin rằng con gái phải làm nhiều loại thức ăn khác nhau, vì một ngày nào đó họ sẽ kết hôn. con gái không nấu ăn là chuyện bình thường. Tôi thấy mình may mắn vì nấu được nhiều món. Bây giờ tôi nấu một số món ăn mà các con tôi và chồng tôi yêu thích, tôi trở nên hạnh phúc và tự hào về mẹ và bản thân tôi. Hãy ghé thăm blog của tôi I am a food blog

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow ini orang ngomong apa ya suhu Ajaey.😂

      Hapus

Posting Komentar

Recent Posts

Popular Posts

10 Hal Seputar Mimpi Basah Yang Mungkin Belum Anda Tahu

Contoh dan ilustrasi mimpi basah. apa yang diimpikan maupun dirasakan saat mimpi basah. ciri ciri mimpi basah lelaki itu mimpiin apa sih? serta manfaat mimpi basah apakah memiliki efek samping. Buat para remaja pria, pernahkah terbangun dari tidur karena merasakan sesuatu yang basah dan lengket pada celana dalam atau piyama? Pada awalnya mungkin mengira kamu telah mengompol. Tetapi jika sudah pernah mengalaminya atau sudah melewati pubertas, mungkin saja kamu mengalami mimpi basah. Apa itu mimpi basah? Dikutip dari Medical News Today, mimpi basah adalah ketika seseorang orgasme tanpa sadar saat mereka tidur karena mimpi, yang mungkin erotis atau mungkin juga tidak. Mereka disebut mimpi basah karena ketika seorang pria memiliki jenis mimpi ini, ia dapat terbangun dengan pakaian atau tempat tidur basah. Ini karena air mani, sperma yang mengandung cairan, dilepaskan saat ejakulasi. Banyak hal yang menarik diketahui tentang mimpi basah. Berikut di antaranya. 1. Mimpi basah tid

Tahi Lalat Cinta

Tahi Lalat Cinta ini masih terkait dengan Cerpen sebelumnya Komedo Cinta dan Jerawat Cinta. Seperti biasa 100% fiktif. Keluarnya Kolonel Satria yang mengundurkan diri dari Agensi secara tiba-tiba tanpa sebab membuat Pimpinan Agensi pusing tujuh keliling, karena harus mencari penggantinya yang baru. Tidak sembarang Agen dapat mengemban tugas rahasia ini. Karena ini tugas pengintaian jadi sepertinya kurang cocok jika menggunakan jasa Iko Uwais, karena dia tipe duel. Begitu juga dengan Jason Statham yang tipe duel. Namun bagaimana dengan Mark Wahlberg? Ya sepertinya dia cocok, wajahnya tampak penyabar lumayan cocok jadi pengintai pengganti Kolonel Satria. *** Di Mall, dari sebelah rak itu Mark mengikuti Ningsih yang sedang memilih barang. Ningsih ingin menjangkau barang yang tinggi tapi tidak sampai dan Mark membantunya hingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, mereka gugup dan melepaskan barang itu hingga jatuh ke lantai, spontan mereka memungutnya secara bersamaan dan lagi-lagi ta